Kamis, 15 Agustus 2013

Cerita Dewasa Terbaru 2013: Mabak Juminten yang Montok

Cerita Dewasa Terbaru 2013: Mabak Juminten yang Montok | kapankah.com | Namaku Agus, 28 tahun, kisah ini terjadi 3 tahun lalu ketika aku memulai karir baru sebagai auditor di PTPN IV di kawasan perkebunan Teh di Jawa Barat.

Aku tinggal seorang diri di rumah dinas mungil dan asri semi permanen di sekitar kebun. Untuk keperluan bersih2 rumah dan mencuci pakaian aku mempekerjakan seorang pembantu harian, mbak Juminten.

Wanita ini berumur 44 tahun, hitam manis, tinggi skitar 160 dan tubuhnya sedikit gempal. Mbak Juminten asli Solo, dia menikah dan ikut suami yg bekerja di perkebunan ini. 5 tahun yg lalu suaminya wafat dan meninggalkan seorang balita perempuan berumur 5 tahun. Mbak Juminten mengontrak rumah kecil di desa sekitar perkebunan bersama ibu mertuanya yg sdh tua.

5 bulan mbak Juminten melayani keperluanku dgn baik, meski agak pendiam dan memang kami jarang bertemu kecuali di akhir pekan. Gaji yg aku berikan sebenarnya diatas pasaran, ttp mungkin karena besarnya kebutuhan beliau sesekali meminjam uang dariku. Belakangan mbak Juminten meminjam uang lebih besar dari biasanya, setelah aku tanya dgn detail akhirnya dia mengakui telah terjebak rentenir akibat kebiasanya membeli togel dan arisan.

Tidak mengerankan, hanya beberapa bulan berlalu mbak Juminten telah meminjam uangku lebih dari 2 jt, dan pada usahanya meminjam terakhir aku menolaknya dengan halus.

Pagi itu dia sangat bingung dan panik, dengan meneteskan air mata beliau mencoba terus memohon utk memberinya pinjaman sekitar 1,5 jt utk menutupi tuntutan hutang dari bandar judi togel di desa.
Aku kembali menolak dengan tegas, dan mbak juminten terus terisak.

Aku memperhatikan wanita paruh baya ini dgn seksama, wajahnya seperti kbanyakan wanita jawa pada umumnya,tdk cantik tp aku akui masih terlihat lebih muda dari umurnya. Dan sebenarnya selama ini juga aku sesekali melirik tubuh bawahnya yg msh kencang dan bahenol walau pikiran kotorku tdk melangkah lebih jauh.

Semalam, aku dan beberapa temanku sempat iseng nonton film blue sambil makan sate kambing dari warung makan Pak Kirun di ujung desa dan minum beberapa botol anker bir.
Pagi itu terasa akumulasinya. Kesadaranku belum begitu pulih.

Aku mencoba menepis pikiran itu, bagaimanapun itu bukan diriku yang sebenarnya. Mbak Juminten juga jauh dari tipe wanita yg aku inginkan. Terlebih aku takut dengan akibat yg bisa saja terjadi. Bagaimana kalau dikemudian hari kenekatanku akan berbalik menjadi bencana utk diriku dan karir.

Pikiranku masih silih berganti antara pertimbangan kotor dan waras. Mbak Juminten masih duduk bersimpuh di depanku sambil melelehkan air mata. Ruangan menjadi sunyi. Well, aku tidak mungkin tega menolak permohonanya, tapi setidaknya dia harus belajar utk berfikir panjang.
"Jangan duduk di lantai mbak, dikursi aja, saya jadi gak enak" aku memulai bicara.
"Nggih Den.."

Dia bangkit untuk berdiri,bagian bawah pada daster lusuh itu sedikit tersingkap ketika dia berdiri, ada bagian yg tidak sengaja menyangkut pada tonjolan kepala peniti pada kancing terbawahnya,sebagian pahanya yang besar dan lututnya terkuak
dihadapanku beberapa detik. Buru2 dia menariknya kebawah begitu tersadar. Pikiranku kembali kacau.

"Hmm...bingung saya mbak.."Jawabku, kepalaku masih terasa pusing hasil minum2 semalam, aku menekan sisi kiri kepalaku.
"Kenapa den, pusing?" Tanya mbak Juminten.
"Iyah, semalem begadang sm temen2.." Jawabku.
"Mbak ambilin aer putih sebentar.."Serunya sambil segera berlalu ke dapur.

Sekelebat aku masih sempat melihatnya melangkah pelan, setan makin kuat mempermainkan pikiranku. Bongkahan pantat itu bergoyang2 dibalik daster, mungkin pakaian dalamnya sdh sempit, dan bayangan tentang pahanya yg td sempat terlihat itu makin menggangguku.

"Makasih mbak" ujarku ketika menerima segelas air putih dan meminumnya perlahan.

Mbak Juminten masih berdiri di depanku, menungguku selesai minum. Aku menyumpahinya dalam hati, melihat tubuhnya lebih dekat seperti itu pikiranku makin terpuruk.
"Duduk aja mbak, santai aja, kita bicarain dengan tenang " ujarku.
"Iya den.." Jawabnya pelan.
"Gak kebanyakan mbak mo minjem segitu?, terus terang saya keberatan, kayaknya yg kemaren2 sudah cukup.." Ujarku memulai kembali pembicaraan.
"Sebenernya utangnya sejuta tuju ratus den, tapi mbak nambain pake simpenan dirumah, tolong banget den, mbak sebenernya malu banget tp kepaksa.."Jawabnya dengan suara lirih.

"Waduh.."Jawabku terputus.
Aku kembali terdiam, kepalaku masih terasa pusing. Aku menatap pemandangan luar dari jendela. Sebenarnya tidak jadi soal utk soal jumlah uangnya, cuma sisi gelapku masih mencoba meyakinkanku utk mengambil kesempatan.

Mbak Juminten menatap ke lantai, pikiranya masih kalut. Dia menanti jawabanku dengan putus asa. Aku akhirnya menyerah, biarlah, ini utk terakhir aku membantunya, dan berharap dia segera pulang agar sesuatu yg terburuk tidak terjadi pagi ini.
"Okay mbak, sebenarnya ini berat buat saya.." Ujarku.
"Mbak rela ngelakuin apa aja den supaya den percaya mbak mau balikin uangnya.."Sergahnya.

"Apa aja.." Waduh, kata2 itu sangat menggelitik benakku. Perempuan bodoh, seruku dalam hati.
"Ngelakuin apa aja maksudnya apa nih mbak.."Tanyaku sambil tersenyum.
"Apa aja yg den agus minta mbak kerjain .."Jawabnya lugu.
"Selain urusan rumah memang apa lagi yg bisa mbak kasih ke saya?" Kalimatku mulai menjebak.
"Hehe..apa aja den.." Jawabnya sambil tersipu.
"Mbak..mbak..hati2 klo ngomong.."Aku menghela nafas menahan gejolak batin.
"Maksudnya apa den.."Tanyanya heran.
"Saya ini laki2 mbak, nanti kalo saya minta macem2 gimana.."Lanjutku mulai berani.
"Mbak gak paham den.." Wajahnya masih bingung.
"Yaa gak usah bingung, katanya mau ngelakuin apa aja.."Godaku.
"Yaa sebut aja den, nanti mbak usahain kalo memang agak berat dikerjain.."Jawabnya.
"Walah..mbak..mbak..yaa sudah saya ambil uangnya sebentar, tapi janji yah dikembaliin secepatnya"aku berusaha menyudahi percakapan ini.
"Makasih den..makasih banget.."Jawabnya lega.
"Tapi emangnya den Agus tadi mau ngomong apa,mungkin mbak bisa bantu?"Lanjutnya.

Aku yg tengah berjalan menuju kamar terhenti, kali ini pikiranku sudah tidak terkontrol lagi, kalimat itu seperti akan meledak keluar dari mulutku.

Aku membalikan badan, menatapnya dengan seringai aneh.
"Mbak yakin mau nurutin apa aja kemauan saya?"Sergahku.
"Iya den, ngomong aja.."Jawabnya.

Dasar perempuan bodoh ujarku dalam hati.
" Saya kepengen mbak masuk ke kamar saya.."Kalimat selanjutnya seperti tercekat ditenggorokan.
"Terus Den?" Tanyanya penasaran.
" Mbak temenin saya tidur.."Ucapanku serasa melayang diudara, jantungku berdegup kencang.

Wajahnya sontak kaget dan bingung. Aku tau dia pasti akan bereaksi seperti itu, tapi salahnya sendiri. Aku sudah berusaha keras utk menahan diriku utk tidak berniat aneh pada dirinya tapi kesadaranku belum penuh utk melawan kegilaan ini.

"Maksudnya..maksudnya apa den..mbak kok jadi takut.."Wajahnya mulai memucat.
"Iya temenin saya di ranjang, saya lagi kepengen gituan dengan perempuan sekarang.."Jawabku, aku tau mukaku memerah.

"Mmm...tapi..tapi itu kan gak mungkin den.."Ujarnya dengan suara pelan.
"Mungkin aja kalo itu syaratnya mbak mau pinjem uang.."Jawabku .

Ruangan kembali sunyi, mbak Juminten tertunduk, menggenggam kedua tanganya dengan gelisah. Ada rasa sesal telah mengucapkan kalimat tadi, tapi sudah terlanjur. Aku sudah tidak mungkin menariknya, sekarang biar sisi gelapku yg bertindak.
"Gimana mbak?" Tanyaku sambil kembali duduk dikursiku.
"Tapi itu gak mungkin Den..gak mungkin..mbak bukan perempuan kaya gitu.." Jawabnya, suaranya kembali lirih.
"Hhhh..." Aku menghela nafas berat.

Mbak Juminten wajahnya kembali muram, matanya menatap ke luar pintu, kosong, sperti berpikir keras.
"Mbak gak nyangka kok aden bisa2nya minta yang kaya gitu..mbak ini sdh tua..gak pantes .."
Aku diam beberapa saat. Ada rasa amarah tanpa alasan bermain dipikiranku.
"Itulah laki2 mbak.." Hanya itu kalimat yg bisa meluncur dari mulutku.

Dia mungkin menyesal telah mengucap kata2 yg tadi memancing kenekatanku. Tapi situasinya sudah terjepit, wanita lain mungkin akan menghardiku dan segera pergi menjauh, sementara mbak Juminten tidak punya pilihan lain.

"Sekarang terserah mbak, saya tetep kasih uang yg mbak minta, kalo mbak mau menuhin kemauan saya okay, gak juga silahkan.."Jawabku pelan sambil melangkah ke kamar.

Aku kembali ke ruang tamu dengan sejumlah uang ditangan. Aku meletakanya pelan di atas meja kecil di depannya. Wajahnya masih terlihat tegang, dia hanya melirik sebentar ke arah meja kemudian kembali tenggelam dalam pikiranya.

Kami kembali sama2 membisu. Sesekali aku menatapnya, dia menyadari tengah diperhatikan olehku.

"Den...apa aden yakin ...?" Tiba2 dia berucap.
"Sebetulnya saya gak tega mbak, tapi entahlah..itu yg ada dalam otak saya sekarang..terserah mbak de.."Jawabku dengan tenang.

Matanya berkaca2 menatap langit2 ruangan, perasaanya pasti tertekan. Dia kembali terdiam.

"Hmmmm...baiklah Den..mbak gak tau lagi mo ngomong apa, atau harus kaya mana sekarang..kalo itu maunya aden..terserahlah..jujur aja mbak teh takut banget..mbak bukan prempuan gitu den..mbak memang janda..tapi bukan.."
"Sudahlah mbak, klo memang bersedia, skarang saya tunggu di kamar, kalo keberatan, silahkan ambil uangnya dan segera pulang.."Ujarku tegas, kemudian aku bangkit berdiri dan melangkah ke kamar.

Aku membaringkan tubuhku di kasur, trus terang aku pun dilanda ketakutan.Aku tengah dilanda gairah, tapi was2 dengan kemungkinan buruk yg bisa saja terjadi.

Butuh beberapa menit menunggu, pintu kamarku yg memang tidak terkunci perlahan2 bergerak terbuka. Mbak Juminten melangkah masuk sambil tertunduk, terlihat sangat kikuk.

Dia berdiri menatapku di samping ranjang, tatapanya penuh arti. Well, kalo saja aku tidak terlanjur berpikiran mesum mungkin aku segera berlari keluar kamar, aku merasakan takut yg sama seperti yg dirasa mbak Juminten.

Tapi aku berusaha tenang, aku bangkit dan duduk di pinggir kasur.
"Mbak yakin mau ngelakuin ini"?tanyaku.
"Hhh..sekarang smuanya terserah aden aja.."Jawabnya pasrah.

Aku menatapnya lekat2, pandanganku menelusuri seluruh tubuhnya, seperti ingin menelannya hidup2.

Tangan kananku meraih jemari kiri tanganya. Aku memegangnya pelan, jemari itu terasa dingin dan gemetar.

Memang sudah harus kejadianya seperti ini, apa lagi yg aku tunggu ujarku dalam hati. Makin cepat makin baik, setan itu membisiki bertubi2.

Aku menarik tangan itu agar tubuhnya mendekat. Niatku sebelumnya ingin memeluknya terlebih dahulu, tapi nafsuku sudah tidak tertahankan. Aku segera meneruskan dorongan tubuhnya yg limbung terhempas ke atas kasur.

Begitu dia terhenyak di sampingku, aku langsung menerkamnya, menghimpitnya dibawah tubuhku dan ciumanku langsung mendarat dibibirnya.

Aku tidak memberikanya waktu utk berpikir, aku melumat2 bibirnya, menciumi dengan kasar lehernya dan trus bergerak menjelajahi bagian dadanya.

Nafasnya tersengal, wajah itu masih terkaget2 dengan apa yg sedang aku lakukan. Jemariku segera beraksi, aku menjamah bongkahan pahanya dibawahku, daster itu telah tersingkap ke atas.

Aku seperti kesetanan menciumi pahanya yg besar, mengecup berkali2 selangkanganya dan jemari tanganku yg lain langsung meremas buah dadanya. Gerakanku cepat terburu nafsu.

Sebentar saja seluruh tubuhnya telah ku jamah. Aku masih menciuminya membabi buta. Tak lama kemudian aku bergerak cepat membuka lepas pakaianya.

"Den..jangan den..sudaah.." Serunya ketika aku kembali menciuminya,hanya hanya bra dan celana dalamnya yg tersisa menutupi tubuhnya. Seraya kedua tanganya berusaha mendorong tubuhku.

Aku tidak memperdulikan perlawananya. Aku menduduki perutnya sambil kedua tanganku bergerak melepas bajuku.

Nafasku memburu, yg keluar dari mulutku hanyalah desahan penuh nafsu angkara murka. Wanita ini makin ketakutan melihatku.

Kemudian aku bangkit berdiri di atasnya. Kedua tanganku bergerak cepat melepas celana pendek dan celana dalamku. Mbak Juminten menangis.

Aku tidak perduli lagi, kejantananku telah berdiri mengacung di atasnya, mbak Juminten makin panik melihatku. Jemariku bergerak2 mengocok2 cepat batang penisku sehingga semakin keras berdiri, matanya terpejam basah.

"Den..sudahlah den...jangan..sudahlah..mbak gak jadi pinjem uang..sudaaah.."Jeritnya ketika aku kembali menduduki perutnya. Dia berusaha meronta tapi kedua tanganku dengan kuat menahan tanganya pada kedua sisi bantal.

"Sudah telat mbak" Suaraku bergetar menghardiknya.

Aku memaksa kedua paha sekel itu terbuka, dia masih berusaha menutupnya rapat. Kami bergumul beberapa saat, begitu ada celah aku segera menekan kuat selangkanganku di dalam jepitan pinggul mbak Juminten.

Dengan gerakan kasar aku menarik ke samping paha kirinya. Tanganku langsung bergerak menuntun penisku ke arah vaginanya.

Aku sempat salah memposisikanya, dorongan penisku menggesek keluar di atas permukaan kemaluanya. Pada percobaan kedua kepala penis itu langsung menusuk masuk.

Mbak Juminten menjerit terperikan oleh rasa sakit..Wajahnya meringis,matanya menyipit menahan perih diselangkanganya. Dia sangat terkejut ketika benda itu menerobos masuk.

"Ahhh...shhh...oohhh.." Desahku,terasa nikmat menjalar melalui kejantananku hingga naik ke otak, aku seperti terbakar. Melihat kemaluan mbak Juminten yg berbulu lebat membuatku makin bernafsu. Tubuh kami masih terdiam kaku beberapa saat.

Aku sedikit menarik penisku dan menusuknya kembali di dalam, mbak Juminten kembali tersedak,urat lehernya menegang, matanya menatap ke arah selangkangan, lelehan air mata itu masih mengalir dipipinya.

Aku kembali mengulanginya, kali ini aku mendorongnya lebih keras. Mbak Juminten makin menjadi tangisnya.
"Ouhh..huuhuu..huhuu..deen..sudah denn...sudaaah.." Rintihnya sambil memegang bahuku keras.

....Selanjutnya aku lupa diri, aku meliuk2 menyodok selangkanganya. Penuh tenaga, makin lama makin cepat gerakanku. Bunyi derit ranjang kayu itu menambah seru suasana.

Wanita ini memiliki tubuh yg cukup menawan. Meski sudah berumur tapi kulitnya masih kencang, bokongnya tebal dan bahenol. Pahanya yg besar itu mulus meski tidak putih, melingkari pinggulku.

Aku beringas menghempas2 tubuhnya di bawahku. Mbak Juminten telah berhenti menangis, matanya terpejam, hanya terdengar suara nafasnya yg terputus2, buah dadanya bergoyang2 mengikuti gerakanku. Wanita ini sudah pasrah dengan apa yg tengah terjadi.

Bahkan ketika aku merubah posisi, mengangkat kedua pahanya ke atas, menahanya tergantung di udara dengan kedua lenganku,kembali penisku terbenam,mbak Juminten hanya diam. Hujamanku makin bebas dan dalam menjajah vaginanya yg terkuak lebar.
".. Plok..plok..plok.." Suara gesekan selangkangan itu terdengar jelas ditelingaku.

Kemaluan mbak Juminten yg basah makin menghangatkan batang penisku di dalam. Sesaat lagi aku sudah tidak kuat menahan desakan, aku seperti kesetanan menggenjotnya. Mbak Juminten seperti mengerti apa yg akan segera terjadi.

"Den..tolong.. jgn keluarin di dalem den..tolongg..." Serunya memohon dengan suara gemetar.

Aku tidak menjawab, aku tengah fokus ingin menuntaskan aksiku. Sedikit lagi akan sampai.

Mbak Juminten memekik menyebut namaku saat tusukanku tiba2 berhenti, tubuhku tengah meregang.
"Deenn..cabut deen..." Serunya panik sambil menekan perutku ke belakang.

Aliran sperma itu bergerak naik mendekati pangkal penisku, jemariku telah kuat mencengkram sprei. Beruntung aku masih sempat menarik batang penisku keluar dan tepat sedetik kemudian semprotan pertamanya melompat keluar.
"Ahhhhh...sshhhhhh...mbaaak...aduuhhhh....." Jeritku panik.

Belasan kali cairan hangat itu menghantam sebagian perut mbak Juminten. Aku terpapar kenikmatan luar biasa, mataku terpejam beberapa saat hingga akhirnya semuanya usai.

Mbak Juminten melihat proses akhir tadi dengan seksama, dia memperhatikan wajahku yg meregang, matanya was2 melihat penisku memuntahkan cairan kental itu membaluri perutnya.

"Sudah den..sudah puas ?" Ujarnya beberapa saat ketika aku masih tersengal diam di atasnya, air mata itu kembali mengalir dari pinggir pipinya.Kalimat itu serasa menamparku.

Rasa penyesalan perlahan2 merayap . My gosh, aku baru saja menodai perempuan ini. Bagaimana mungkin hingga aku bisa sebejat itu.

"Maafin saya mbak..saya bener2 khilaf.." Jawabku bingung.
Aku beringsut mundur, memungut seluruh pakaianku, melangkah ke kamar dan meninggalkanya terbaring di ranjang.

Aku melepas kekalutan pikiranku dengan menghisap sebatang rokok di ruang tamu. Mudah2an mbak Juminten tidak memperkarakanku, menganggapnya selesai hanya di sini. Aku menepuk2 keningku menyesali kebodohanku.

Mbak Juminten keluar kamar beberapa menit kemudian. Matanya sembab, dia duduk di kursi di sampingku, tanpa bicara. Suasana hening, aku tidak berani menatapnya atau memulai pembicaraan.

"Ini uangnya saya ambil den, nanti diusahain dikembaliin kok.." Ujarnya pelan, suaranya berat,hidungnya seperti tersumbat cairan.
"Iya mbak, gak usah dipikirin soal kembalianya..dan..maaf soal yg tadi.."Jawabku tanpa menoleh kepadanya.
"Gak papa den..gak papa.."Jawabnya, tangisnya kembali pecah sedetik kemudian, bahunya terguncang2, aku hanya bisa terdiam.

"Sekali lagi maaf mbak.."

Dia mengangguk pelan sambil menunduk,tetes2 air mata itu masih berjatuhan dipangkuanya. Aku meraih uang itu, melipatnya,kemudian memasukanya ke dalam kantung dasternya.

Jemariku menyentuh pangkal tangannya, menepuknya pelan kemudian tanpa bicara aku melangkah masuk ke kamar sambil menutup pintu. Aku tidak sanggup lagi melihat wanita itu menangis. Aku terbaring,penat terasa, pinggangku nyeri.

Aku melihat Jam di dinding, pukul 2 siang, aku mungkin telah tertidur lebih dari 2 jam. Perutku sangat lapar, aku melangkah keluar kamar. Mbak Juminten mungkin telah lama pulang. Aku kembali didera pikiran buruk. Dendamkah dia padaku, bisa saja tiba2 orang sekampung muncul mendatangiku dengan tuduhan cabul atas laporan darinya. Hhhh..sudah terjadi, yg nanti urusan nanti.

Aku pergi kerja agak telat keesokan harinya, aku sengaja menunggu mbak Juminten datang, memastikan bahwa kekawatiranku tidak terjadi. Jam 8 mbak Juminten tiba, perasaanku tidak karuan ketika dia membuka pintu depan.

"Loh belum kerja den?" Tanyanya, wajah itu terlihat datar, malah ada senyuman kecil menghias bibirnya.
"Ini dah mau jalan mbak, sengaja nunggu mbak dateng.."Jawabku berusaha tenang.
"Hehe..kenapa, takut saya gak bakal dateng lagi ya?" Tertawanya membuatku lega.
"Iya mbak..takut aja, ...mm.."
"Mm.. Apa den..?" Lanjutnya sambil masih berdiri di depanku.
"Maaf yg kmaren mbak..."Jawabku.
".....ya ndak papa den...mmm..yo wis..lupain aja.." Serunya, dia melangkah ke dapur tanpa menunggu reaksiku selanjutnya.

Yah sudahlah, yg jelas tidak akan ada masalah, dia sudah menerima perlakuanku kemarin. Aku segera berlalu menuju kantor.

Hari2 selanjutnya berlangsung normal, kami hanya bertemu di akhir pekan, tidak ada bahasan lagi soal peristiwa itu. Mbak Juminten tetap melakukan pekerjaanya dengan baik. Kami hanya sesekali mengobrol basa basi.

Satu bulan berlalu, aku mulai melupakan peristiwa itu. Kerjaanku makin banyak mendekati akhir tahun. Aku juga makin sering menghabiskan waktu di luar bersama teman2 di akhir pekan.

Hingga pada suatu pagi di hari sabtu aku terbangun dan terjebak dalam lamunan tentang mbak Juminten. Malam itu aku mimpi erotis, dengan mbak Juminten, cairan sperma itu sebagian telah mengering memenuhi celana dalamku.
Dalam mimpi itu aku menggauli mbak Juminten dari belakang, bongkahan pantat itu terpapar jelas dalam penglihatanku. Damn it, kenapa hal ini kembali menggangguku.

Jam 9 pagi, wanita itu telah datang seperti biasanya. Aku baru saja selesai mandi dan tengah bersiap utk sarapan.
" Dah sarapan mbak? Ayo ini saya tadi beli dua bungkus nasi uduknya, satu utk mbak.." ujarku sambil tersenyum ramah.
"Makasih den..nanti aja, mbak mau beres2 cucian pakaian dulu.." Jawabnya.
"Santai aja dulu..temenin saya sarapan dulu.." Ntah kenapa pagi itu aku agresif.
"Nggih den, sebentar ambil piring dan sendok dulu.." Jawabnya seraya melangkah ke dapur.

Aku melihat tubuhnya dari belakang, rok merah sepanjang bawah betis itu cukup jelas mencetak lekukan pinggul, pantat dan pahanya. My gosh, darahku berdesir, mimpi semalam membuat hayalanku makin parah.

Otaku segera bereaksi, mencari jalan pintas, berandai2 seandainya hari ini aku kembali bisa memperdayainya. Aku segera menepis pikiran buruk itu.

Mbak Juminten telah kembali, duduk bersebrangan di depanku dan telah bersiap utk makan.

"Gimana kabar orang rumah mbak, sehat semua?" Tanyaku basa basi.
"Sehat den..." Jawabnya santai.
"Anaknya kapan mulai sekolah mbak, taun depan?"
"Iya den, rencana taun depan..mdh2an rejekinya lancar.."
"Yaa selagi saya di sini tetep aja kerja di sini mbak..klo mbak mau tambahan, mungkin coba mulai masak katering utk anak2 sini, kemaren ada obrolan kita di sini soal itu. Pada bosen katanya makan masakan luar, lebih boros juga..." Lanjutku.
"Wahh bagus tu den..tapi perlu modal, ibu mertua saya pinter masak.."Jawabnya semangat.
"Gampang soal modal, nanti saya pinjemin..klo mau mulai depan mbak..nanti saya tawarin temen2 saya.."
"Gak enak klo dipinjemin melulu, kasian den Agus.." Jawabnya.
"Yaa klo utk bisnis kenapa gak mbak, sama2 bantu..saya jg nanti minta harga diskon dong..hehe.." Jawabku.
"Hehe..untuk den Agus gratis aja..lha uangnya kan dari aden jg.."
"Yaa gak boleh gitu mbak, bisnis tetep bisnis.."Jawabku.
"Duh saya makin banyak utang budi dong den.."Lanjutnya.
"Jgn berpikir gitu..saling bantu wajar aja mbak.."
"Yo wis, nanti tak bilangin sama ibu mertua, dia pasti seneng.."
"Iya mdh2an jalan mbak..semangat yg penting.."Jawabku.

Obrolan pagi itu terasa menyenangkan, spertinya dia benar2 melupakan kejahatanku waktu itu. Aku merasa lega, walau dalam hati aku menginginkan kehangatanya lagi. Pasti nanti ada jalannya, sabar aja, setan itu kembali membisiki.

Minggu pagi, keesokan harinya, mbak Juminten datang membawa anak perempuanya ke rumah.
"Maaf yaa den, si Rini saya bawa, mbahnya td pagi dijemput ipar saya ke Solo, mau ada acara kawinan sodaranya."
"Yaa gak papa mbak, biar dia bisa maen di sini, hei pa kabar cantik.." Seruku sambil tersenyum ramah kepada anaknya.
Bocah itu tersipu dan bersembunyi dibalik kaki ibunya.
"Saya mau jalan dulu ya mbak, ada acara kawinan anak kantor..siang baru pulang.."
"Nggih den....monggo.." Jawabnya.

Aku segera berlalu, mbak Juminten terlihat manis pagi ini, rambutnya terurai ikal menjuntai ke bahu. Paduan kaos biru dan celana jeans ketatnya itu membuatnya terlihat lebih muda. Well..well..well..kapan kita bisa bisa berdua di kamar lagi mbak, ucapku dalam hati.

Hujan turun dengan lebatnya sesampainya aku kembali di rumah. Sebagian kemeja dan celanaku telah basah kuyup.
"Waah keujanan den..ini dipake handuknya dulu, nanti mbak bikinin aer panas.."Serunya ketika membuka pintu.

"Makasih mbak.." Aku langsung berlalu ke kamar, mengelap kepala dan tubuhku dengan handuk dan mengganti pakaian.
"Rini kemana mbak, kok sepi.." Ujarku ketika duduk diruang tamu.
" Barusan tidur di kamar belakang den..sudah kenyang tidur dia..wah..kenceng ya anginya.."Jawabnnya.
"Iya mbak, sudah lama jg gak ujan.."

"Ini mbak bikinin teh anget pake jahe den..diminum.." Lanjutnya.
" mantep nih..makasih mbak.."Jawabku sambil menerima cangkir dari tanganya.

Teh itu tidak terlalu lama mengepul, udara dingin perkebunan ini membuatnya segera tidak begitu panas lagi. Udara diluar gelap seperi senja. Angin menerpa atap seng,menimbulkan suara berisik.

"Masih sibuk mbak, santai aja dulu duduk2 di sini.."Ujarku melihatnya mondar mandir.
"Iya den, sebentar mau mindahin air panas ke termos.."Jawabnya.

Tak lama dia menghampiriku dengan membawa sepiring biskuit dan teh utk dirinya. Kami belum memulai obrolan. Aku masih sibuk membalas sms teman2ku.

"Mbak gimana kabarnya, urusan yg dulu itu sudah selesai.." Ujarku memulai pembicaraan.
Dia sedikit terusik dengan pertanyaanku.
"Sudah den..mbak sudah kapok gak mau lagi maen gituan..gak ada gunanya.."Jawabnya.
"Hehe..iya mbak, ngapain jg..dikerjain bandar aja kalo togel sih.."Jawabku tersenyum.
"Uangnya nanti pelan2 mbak angsur yaa den..maaf.."Lanjutnya.
"Gak papa mbak, santai aja, nanti klo kateringnya lancar mbak bisa dapet tambahan..tenang aja.." Jawabku.
"Makasih den.."

Kami kembali terdiam. Tiba2 aku tergelitik utk bertanya tentang peristiwa dulu itu. Sedikit ragu jika itu membuatnya tidak nyaman tapi kalimat itu mengalir tanpa bisa kutahan.
"Mbak..maaf boleh saya nanya.."
"Boleh den..mo nanya apa.."Jawabnya.
"Yg kemaren itu..mbak gak marah dengan saya ?" Lanjutku.
Dia terdiam beberapa saat,aura wajahnya berubah.
"Mmm..mbak ikhlas kok den..salah mbak juga..sudahlah gak papa.."jawabnya pelan sambil mengalihkan pandangan ke arah jendela.
"Boleh nanya lagi mbak.." Lanjutku.
"Monggo den.."
"Apa yg mbak rasa waktu itu,..mm..waktu di kamar.." kalimatku makin menjebak.
"....mmmm...gimana ya..gak tau den.."Jawabnya, wajahnya terlihat canggung.
" Sakit..atau jijik mbak.."
"Jijik kenapa..sakit sih iya.." Jawabnya pelan.
"..aden kok bisa begitu waktu itu..mbak ini jauh lebih tua..kok bisa.." Lanjutnya.
" ..nafsu laki2 mbak..liar..kadang gak bisa kontrol.."Jawabku.
"Soal tua sih gak jadi soal..jujur aja, mbak masih menarik kok.."Lanjutku makin berani.
"Menarik apanya..aden masih muda..cari pacar yang muda, cantik..gak susah.."Jawabnya.
"...well..saya masih belum tertarik utk pacaran lagi mbak.."
" Apa yg aden pikir semenjak kejadian itu soal mbak.."Tanyanya kembali.
" Maksudnya..?"
"Yaa apa aden pikir mbak ini jadi perempuan gimanaa gitu di pandangan den agus.."
"Saya nyesel sesudahnya mbak, gak tega bikin mbak gitu..yaa selanjutnya saya masih respek kok sama mbak.."Jawabku.
"..mbak juga nyesel.."
" tapi kalo boleh jujur..maaf yaaa mbak.."
"Apa den..ngomong aja.."Jawabnya penasaran.
".. Saya pengen ngulangin lagi..saya tau itu gak mungkin..maaf yaa mbak.."Suaraku sedikit bergetar, jantungku berdetak cepat.
"....mmm...apa yg aden cari..mbak seperti ini, perempuan kampung, gak cantik..dah tua lagi.." Wajahnya lekat2 menatapku.
" ..masih tetep menarik kok mbak..saya masih suka inget2 kejadian itu.."Jawabku.

Mbak Juminten tersenyum tipis, aku penasaran apa yg ada dalam pikiranya.
"Apa yg aden inget waktu kejadian itu.." Ujarnya.
"Yaa indah mbak..malem sabtu kemaren saya sempet mimpiin mbak gituan sama saya..sorry.."Jawabku.
"hehe..aden masih muda, wajar kalo pikiran ke arah itunya masih kuat, jadi.."
"Sekarang jg lagi mikirin itu mbak.."Aku memotong kalimatnya.
"..hmm...yaaa mbak berat hati utk begitu lg ..takut den.."Jawabnya.
"Kalo saya minta tolong supaya mbak gak takut lagi gimana.."Responku mencecar pikiranya.
"Yaaaa..gimana den..gak usah de..yg sudah yaa sudah.."Jawabnya.

Aku paham dia tengah dilanda kebingungan, di satu sisi dia segan menepis godaanku, di sisi lain dia tidak ingin terjerembab dalam perzinahan bersamaku lagi.

Aku menggeserkan dudukku mendekat. Tanganku memegang jemari tanganya. Wanita ini terkesiap dgn kenekatanku.
"Mbak..gak perlu takut..mbak bisa minta apa aja dari saya.." Ujarku sambil menatap kedua matanya lekat2.
" Jangan den..dosa...."Jawabnya ketakutan.

Tapi dia sudah terlambat, ciuman bibirku telah mendarat di bibirnya. Aku memagut2 bibir itu pelan.

Wajahnya pucat pasi..antara kaget dan bingung dengan apa yg dia tengah rasa. Aku kembali menciumi wajahnya, bibir kami kembali bertemu, tanganku telah melingkar dengan manis di lehernya.

Dia hanya terdiam..tanpa reaksi. Tidak ada penolakan, aku makin berani merapatkan tubuhku. Kali ini tidak hanya bibir dan sekitar wajahnya, ciumanku mendarat di leher dan belakang telinganya. Mbak Juminten bergidik, tubuhnya merinding.

Mendung semakin gelap diluar, petir sesekali menggelegar diiringi deru angin kencang. Aku berdiri, kedua tanganku menggapai tanganya, menariknya keatas kemudian membawanya melangkah mengikutiku, ke arah kamar...

Mbak Juminten sama sekali tidak bereaksi, dia kikuk mengikuti langkahku. Wajahnya takut2 melihatku ketika pintu kamar itu tertutup rapat.
Ruangan kamar cukup gelap, hanya sebagian tubuh atas kami yg terlihat jelas. Tidak perlu lagi berkata2, segera tuntaskan apa yg ada dalam hati.

Aku membimbingnya utk berbaring diranjang. Wajahnya menatapiku tanpa henti,menanti kejutan2 selanjutnya. Aku kembali menciumi bibir itu, tidak ada balasan berarti darinya. Seluruh leher dan bagian dadanya yg tertutup kaos itu habis ku kecup. Nafas mbak Juminten terdengar menderu.

Tidak perlu lagi basa basi, aku segera melepas habis pakaian yg dikenakanya. Hanya tertinggal bra dan celana dalam lusuh itu menutupi. Tubuhku pun telah hampir telanjang, pakaianku berserakan di lantai. Aku langsung menindih tubuhnya.

Mbak Juminten mendesah, jantungnya terdengar cepat berdetak di telingaku, mulutku tengah puas mencium dan menggigit2 payudaranya yg lumayan besar.

Kulit kami saling menempel, bulu2 diperutku mungkin membuatnya makin merinding. Tanganku telah kesana kemari meraba tubuhnya, jemariku lincah menggosok2 sekitar selangkanganya.

Penisku telah sedari tadi diruang tamu mengacung keras, diranjang ini dia semakin garang menempel dan kadang2 menggesek tepat ditengah2 selangkangan mbak Juminten. Dia makin terbuai oleh rangsangan dariku. Wanita ini siap sedia untuku hari ini, aku sangat beruntung.

Akhirnya kami sudah sama2 siap tempur. Vaginya sudah terkuak lebar dan basah. Permainan lidahku tadi di situ telah membuatnya tanpa sungkan2 merintih dan mencengkram erat kepalaku.

Pahanya terkulai lebar ke samping, aku sudah bersiap menusuk. Sedikit demi sedikit batang itu terbenam diiringi dengan rintihan mbak juminten dan desis yg keluar dari mulutku. Kami berpelukan erat ketika penis itu telah berhasil menyentuh dasar vaginanya. Oh my gosh, nikmat sekali.

Kami kembali berpagutan, pelan2 aku menarik ulur selangkanganku. Mbak Juminten hingga memeluk pantatku merasakan sensasi itu.

"Nikmatilah mbak,nikmati yg sudah lama tidak kau rasakan. Usiaku memang terlalu muda untukmu, tapi aku sanggup memberimu kepuasan," ujarku dalam hati.

Aku ingin menikmati moment ini lebih lama, aku mengaduk2 kewanitaanya perlahan dan lembut. Suasana begitu romantis.
"Uhh..uhh..shhh..hhhh..." Mbak Juminten mendesah setiap kali aku menusuk selangkanganya. Tanganya lembut memeluk punggungku.

Kami terus berpagutan, pantatku meliuk2 menghantam. Makin lama gerakanku makin cepat. Tenagaku seperti tidak habis membawanya pada kenikmatan. Mungkin lebih dari 15 menit berlangsung, mbak Juminten mulai kewalahan. Jepitan pahanya makin kuat sementara pantatnya tidak henti bergerak ke atas menyambut penisku, nafasnya sudah tersengal. Mungkin tidak lama lagi mbak Juminten mencapai klimaks.

"Buuuk..ibuuuk..di manaaa...rini pengen pipis.." Tiba2 suara anaknya terdengar nyaring di depan pintu kamar.

Kami yg tengah melambung terkesiap kaget dan melepas pelukan. Sekejap saja kami telah berdiri, saling bertatapan dalam kebingungan.
"Buuk...ibuuuk.."Lanjut bocah itu.

Damn it..aku menyumpah dalam hati.
"Iya sebentar naaaak..pipis aja di dapur..ada kamar mandi di situ..ibu lagi beresin kamar..sebentar lagi keluar.." Jawab mbak Juminten panik berusaha memungut pakaianya yg berserakan di kasur.

"Iya buk.." Jawab bocah itu.
"Nanti baring aja lagi di kamar, ibu nanti nyusul.."Jawabnya sambil berusaha meraih celana dalamnya.

Aku menahan tanganya, "biar aja mbak..tanggung sebentar lagi.." Ujarku.
"Jangan..nanti dia curiga.." Jawabnya menepis tanganku.
"Nggak..sebentar lagi..tenang aja.."Seruku.
"Jangan Den.." Jawabnya, tapi kalimat itu terpotong.

Aku menarik tubuhnya, nafsuku sudah memuncak. Aku mendorong tubuh telanjangnya menghadap meja kecil di hadapan kami. Dengan sekali kibasan seluruh benda2 kecil di atasnya berlompatan jatuh ke lantai dengan suara yg berisik.

"Den..nanti den...sabar.." Jawabnya kebingungan.

Aku tidak memperdulikan ucapanya. Tubuhnya ku dorong merapat ke pinggir meja, kedua kakinya aku paksa untuk melebar, pantatnya aku tarik ke belakang. Posisi mbak Juminten sudah menungging di depanku, belahan pantat itu mempertontonkan lubang anusnya.

Aku menjadi kian brutal, pantat besar dan bahenol itu ku angkat, bagian vagina dan rambut2 halus itu terpampang didepan selangkanganku. Penisku langsung mendekat, langsung menghujam masuk. Pemandangan dibawaku membuatku makin bernafsu.Batang penis itu perlahan menghilang diantara bongkahan pantatnya.

O gosh..nikmat sekali, aku mendesis2 menahan geli. Segera saja tubuhku menyodok2 dengan kuat. Tubuh mbak Juminten maju mundur terpapar seranganku. Sebentar saja dia kembali merintih.

Permainan kami berlangsung cepat, kekagetan tadi itu menambah selera, bunyi gesekan kemaluan kami mengiringi. Mbak Juminten memutar2 pinggulnya berusaha segera meraih akhir perjuangan. Peniskupun sudah seperti ingin meledak.

Tubuhku semakin kuat menekannya kedepan, mbak Juminten gemulai memutar pantatnya kesana kemari, makin liar dan binal dan akhirnya dia meraih klimaks.

"Uhhhh...uhhh...dennn....aduuuhh..uuhh..huhhu..huh uuu..uuhh.." Jeritnya sambil terisak.

Kedua pahanya mengejang kaku,kepalanya hingga terbaring dipermukaan meja sambil terus merintih tiada henti. Cairan hangat kewanitaanya membasahi penisku di dalam.

Aku ingin segera merasakan hal yg sama, sodokanku makin cepat melabraknya.Beberapa kali ayunan akhirnya pantatku berhenti bergerak bersiap meregang, tanganku kuat mencengkram pinggulnya.
"Cabut den..cabut...jangan didalem.."Serunya panik.

Aku masih sempat menarik penisku keluar tepat ketika spermaku datang menerjang.
"Ahhhhh....mbakkk..oooh...shhh..ahhh..."Jeritk u ketika sperma itu menyemprot panas tepat diatas bongkahan pantat bahenol mbak Juminten.

Sebagian mendarat di dalam belahan pantatnya, mengalir turun menelusuri permukaan anusnya. Jari tangan mbak Juminten menyelusup dibagian situ, menahan aliran sperma itu mendekati vaginanya dan menyekanya dengan cepat.

Kami terkesima dengan nafas tersengal. Nikmat masih menjalari benak kami dalam bisu. Akhirnya permainan ini usai.

Aku terduduk lemas di pinggir ranjang menatap mbak Juminten yg masih berdiri dari belakang, badanya limbung memegang pinggiran meja. Cairan sperma itu berkilauan pada bagian pantatnya. Juga terlihat cairan putih kental dari dalam vaginanya yg tertahan bulu lebat kemaluan mbak Juminten.

Hujan telah reda ketika kami duduk di ruang tamu. Bocah kecil itu tengah serius menonton tivi di belakang kami. Dia tidak menyadari bahwa ibunya baru saja telah bertarung hebat di kamar bersamaku.

Mata kami yg hanya berbicara saat itu, apa yg sudah terjadi tadi membungkam kami tenggelam dalam pikiran masing2.

Semenjak hari itu hubungan kami berada dalam suasana yg baru. Usaha katering yg kujanjikan berjalan sukes, tarah hidup mbak Juminten meningkat lebih baik.

Hingga hari ini mbak Juminten masih menemani gairah mudaku yg tak kenal batas. Ada terbersit dalam hati untuk menikahinya suatu hari nanti, biarlah waktu yg menentukan akhirnya. Udara dingin perkebunan teh ini membuat kami terus larut.
Sumber : http://www.ceritadewasax.com/2013/07/cerita-xxx-mabak-juminten-yang-bahenol.html

Certa Dewasa Terbaru : Menikmati Tubuh Ibu Sumi Yang Bikin Ketagihan




Koleksi Certa Dewasa Terbaru : Menikmati Tubuh Ibu Sumi Yang Bikin Ketagihan | Aku tinggal di dekat pasar tradisional. Rumahku tepat di belakang los-los yang ada di pasar itu. Salah satu los yang tepat di depan rumahku adalah los penjual telur ayam. Bik Sari, begitulah biasa kami memanggil penjual telur itu. Dia dari Madura, dan dibantu oleh anaknya, Sumi.

Sumi berumur 25 tahunan, sudah bersuami dan punya seorang anak berumur 3 tahun. Body montoknya sangat menawan. Dengan tinggi sekitar 165cm dan ukuran toket 36 C (taunya belakangan setelah tersingkap :P) membuat sempurna penampilannya yang ditunjang dengan wajah yang lumayan manis. Jujur saja, aku sangat sering membayangkan tubuh moleknya ada dalam dekapanku. Setiap kali berangkat kerja, aku selalu menyempatkan diri memandang Sumi yang selalu mengenakan kaos ketat saat menjaga kiosnya, dan itu membuat selangkanganku seringkali berontak, kalau gak cepat-cepat berlalu dari hadapannya...

Certa Dewasa: Menikmati Memek Empot-empot Ibu Sumi | Kemarin pagi aku bolos ke kantor. Sementara istriku sudah berangkat bekerja, aku pakai waktu pagiku dengan mencuci Ninja merahku setelah beberapa hari malas kubersihkan karena hujan turun terus menerus. Sambil memandikan Ninja, sesekali aku curi2 pandang ke arah Sumi, khususnya ke arah toket jumbonya... Beberapa kali sempat ketahuan kalo aku sedang curi2 pandang, dan aku hanya melempar senyum untuk menutupi kemaluan.. eh rasa maluku.
Tak berapa lama kemudian aku lihat Sumi beranjak menuju ponten umum. Tapi gak lama kemudian, dia kembali dan terlihat gelisah dan wajahnya pucat seperti menahan sesuatu. Dan dia akhirnya celingak-celinguk di tepi jalan belakang kiosnya, yg otomatis berada di depan rumahku. Karena penasaran, aku tanya ke Sumi.

“Kenapa, Sum?” tanyaku
“Anu, mas. Kebelet, tapi ponten penuh,” jawabnya tanpa malu-malu, karena kami juga udah kenal lama.
“Trus kamu mau ke mana? Mau kencing di pinggir jalan ya?” godaku.
“Ih mas ini, ya gak lah. Aku mau pulang, nunggu becak,” jawabnya.
“wheleeh... kamu pake kamar mandiku aja lho, daripada keluar di becak,” kataku menawarkan jasa.. sambil mikir strategi buat ngintip..
“Gak apa2 ya mas?” tanyanya. “udah, daripada keburu keluar... cepet masuk,” kataku. Dan dia pun segera masuk ke rumahku, dan aku tunjukkan kamar mandiku. Setelah mengantarnya, aku keluar untuk memastikan situasi di luar tidak sedang ramai. Setelah yakin dengan perkiraanku bhw saat Sumi masuk tidak ada orang yang melihat, maka aku masuk ke rumah dalam rangka mengintip. Pintu pagar pun aku tutup.

Hampir saja aku kecewa... karena saat mendekati kamar mandi, aku dengar Sumi sudah menyiramkan air, tanda tuntasnya hajat yg tertahannya. Kentang nih, pikirku.... Tapi tiba-tiba terdengar, “gedebuuuk... klothaaak... aaaauuuuuuwwwww...” Rupanya Sumi terpeleset dan jatuh di kamar mandi. Spontan aku ketuk pintu kamar mandi, dan bertanya “Kenapa, Sum?” Dia menjawab, “aduh mass... aku kepeleset.. sakit banget dengkulku.” Tak lama kemudian, dia membuka pintu, sambil terpincang-pincang memegangi lututnya yg terlihat merah memar. Dia terhuyung-huyung. Aku kasihan melihatnya, dan bantu memapahnya. Dia gak menolaknya. Aku peluk pinggulnya dengan tangan kananku dan membimbingnya ke ruang tengahku. Karena dia terpincang-pincang, tanpa sengaja gerakan tubuhnya naik turun, dan saat itu pula tanganku terasa menyentuh toket jumbonya, meskipun masih dari luar kaosnya. Tanpa disadari, saat kupapah, sebagian kaosnya tersingkap, dan menampakkan betapa putih dan mulus kulit Sumi.

Sampai di ruang tengah, Sumi minta duduk di karpet sambil bersandar di sofa untuk meluruskan kakinya yg memar. Nah, saat mau duduk inilah aku manfaatkan kesempatan untuk meremas toketnya ketika aku membantunya duduk dengan memapahnya dari belakang. Seolah gak kusengaja, saat dia melorotkan tubuhnya, dan tanganku mulai sampai di wilayah toketnya, kusempatkan utk sedikit meremasnya. Dan Sumi pun melenguh... “uuhh...” aku gak tau itu lenguhan karena remasanku atau karena sakit di lututnya. Sebodo amat ah... yg penting aku bisa merasakan betapa kenyal dan kencangnya toket jumbo Sumi.
Aku mengambilkan air minum untuk Sumi sambil menawarkan menggosoknya dengan minyak gosok yang aku punya. Dan Sumi menerima tawaranku. Aku ambilkan minyak gosok dan sekaligus menawarkan diri utk menggosokkan dan mengurut kakinya. Dia mau saja. Dan mulailah ritual pijit memijit, walau sebenarnya cuma mengelus dan mengusap... hehehehe... Karena kuatir Bik Sari curiga dengan kepergian Sumi, aku bertanya, “kamu tadi pamit ke mana sama bik Sari?” Sumi menjawab, “aku pamit pulang.” “o, ya sudah. Takutnya ntar dicari,” jawabku.

Dari situ, kami mulai perbincangan dengan gombalanku...
“Sum, kamu ternyata manis juga... bodymu bagus,” kataku menggombal. “Coba kalo kenalnya masih sama-sama bujang, pasti tak pacari kamu.”
“ah.. sampeyan bisa aja mas,” kata Sumi, sambil meringis saatku usap bagian yg memar.
“Iya, bodymu mantap, susumu joss, bokongmu semok... hehehe...,” kataku, “pasti suamimu puas banget itu...”
Sumi makin tersipu malu. “Ngomong apa sampeyan itu mas...” “Lho, ya ngomong soal suami istri... kan udah tau sama tau urusan itu kan...?” kataku. Dan tanpa sadar, aku mulai hanyut.. saat memandang wajah Sumi yang tak berapa jauh dari wajahku sambil mengurutnya eh mengelus kakinya. Makin manis di pandanganku. Lama-lama pandanganku turun ke arah dadanya.. dan terpaku di sana, sambil tanganku terus mengelus betisnya. Tak terasa, tanganku telah beralih ke atas lututnya dan menarik ke atas legging hitam ketat yang dipakainya, dan mengelus2 bagian itu sambil terus memandang dadanya. Tiba-tiba Sumi mengagetkan aku... “hayo.. lihat apa?” Kujawab spontan “penasaran dengan isi di dalamnya” Dia pun memukul lenganku. Aku tertawa saja, sambil terus mengelus pahanya, sambil tangan kiriku memijit2 pangkal pahanya dari luar celananya.

Cukup lama kami berdiam diri, sambil aku terus mengelus pahanya, alih-alih mengurut. Tiba-tiba Sumi bergumam.. “emmmhhh....” Aku terkejut dan bertanya, “kenapa Sum? Sakit?” Dia menjawab, “gak apa-apa mas” sambil nafasnya agak tersengal dan matanya mulai sendu. Aku tahu dia mulai horny akibat elusanku. Segera saja wajahku mendekat ke wajahnya dan mencium bibirnya. Sumi membalas dengan lembut. Aku menghentikan aktifitas tanganku di pahanya, dan beralih ke dadanya. Kuremas lembut toket jumbonya...
“Uuuuggghhh.... sssshhhhhh enak masssss” rintih Sumi. Aku pun tak menghentikan ciumanku sambil menyusupkan tanganku di balik kaosnya. Melingkari tubuhnya dan melepaskan kait Bhnya. Lalu tangan kananku sampai pada dua bukit kembar montok yg selama ini ku impikan... Kupilin putingnya yang tak seberapa besar.. dia makin kuat rintihannya... “masssss..... auuuggghh.. geliii.. nikmaatttt...”

Tak berlama-lama segera kuangkat kaos berikut BHnya. Tersembullah dua benda kenyal yang tegak mengacung dengan gagah di depanku. “wooowww.. susumu indah banget, Sum...,” kataku. Segera ku remas dua benda impianku itu, sambil mengarahkan bibirku mencumbu belakang telinga dan turun ke lehernya. Sumi hanya mendesah-desah sambil tangannya memelukku dan menyelusup ke dalam kaosku. Akhirnya kubuka kaosku. Kami berdua bertelanjang dada. Segera saja aku sapukan lidahku ke sekitar puting coklat muda Sumi, yang membuatnya makin mendesah sambil mengangkat pantatnya... “arrrggghhhhh... masssss.... terussss.. iseeeeph maaassssshhh....” Aku menuruti kemauannya.. aku jilat, hisap.. jilat, hisap bergantian yang membuat Sumi makin blingsatan. Tangannya menggapai-gapai mencari tongkat ajaibku... Dia berhasil menemukan dan merogoh celana boxerku, yg pagi itu sedang tidak berlapis CD.
“ooohh.. massssh... gede banget kontolmu.. tempikku gak muat massssh...” rintihnya.. Aku tak peduli.. aku sibuk menikmati kenyalnya susu Sumi. Aku belum puas....

Perlahan-lahan, aku arahkan tanganku ke dalam celana legging yang dipakainya. Sampailah jariku di rimba belantara milik Sumi yang sudah mulai becek... aku pijit-pijit bibir memeknya.. aku telusuri belahan bukit rimbunnya utk mencari sebiji kacang kenyal di dalamnya. Begitu ketemu, segera kupijit2 lembut butiran kenyal itu.. dan membuat Sumi makin blingsatan... “masssshhh.. kamu apain itilku....uuuuggghhhh... masssshhh... gak kuaattthh....???
Segera aku pelorot celananya, Sumi membantu mempermudah dengan mengangkat pinggulnya. Jadilah kami sama-sama bugil di ruang tengahku. Perlahan, Sumi aku baringkan di karpet, dia nurut aja sambil terus mengocok lembut joy stick-ku. Mulutku beralih dari toket ke perutnya hingga sampai ke memiawnya.... Sumi makin mendesah kencang saat hembusan nafasku menghangatkan memek tembemnya. Kami mengambil posisi 69. Sumi segera meraih batangku dan memasukkan ke mulutnya... bibir dan lidahnya terasa lembut menyentuh palkonku.. hisapannya membuat aku beberapa kali mengejang... dan aku membalasnya dengan menjilat dan menyedot2 lubang kenikmatannya.... Walaupun Cuma penjual telur, tapi meki Sumi baunya harum karena dia rajin mengonsumsi jamu ramuan madura. Kujilat dan kuhisap2 bibir mekinya.... Kukunyah2 lembut clitorisnya.. dan ternyata itu membuat pertahanannya jebol...
“massssshhh.... kamu apain itilku massssshhhh.... aku mau dapeeeetttth.... uuugggghhhhh..... sssshhhhh...” Dan, terasa betapa makin beceknya memeknya disiram dengan cairan orgasmenya. Sumi lemas sambil mendesis-desis keenakan. “aduuuhh masshh... enyaaakh.... udah lama aku gak beginian...hhhh.... sshhh..” “hah? Masak sih?” tanyaku. “iya mash... suamiku habis jatuh, kontolnya gak bisa ngaceng lagi..” kata Sumi...
“Oalah Suuuumm.. kasihan banget kamu.. eman bangeeet..... sini sekarang aku puasin... ,” kataku. “iyo massh... puasin aku...,” balas Sumi. Langsung saja aku kenyot lagi susu montok itu. “uuuggghhh... massshhh... ayo masssshh.. puasin akuuuu....” Sumi mengerang. Tangannya segera meraih dan mengocok kontolku. Aku sodorin ke mulutnya. Dijilat, dihisap dari palkon sampai sun hole-ku... membuat aku makin bergairah menggarap Sumi.

Setelah aku rasa cukup becek, segera aku arahkan kontolku ke memek Sumi... Sumi hanya mendesis-desis kenikmatan... Aku usap-usapkan palkon ke belahan meki Sumi... makin lama makin licin.. maka ku doronglah batangku sampai amblas seluruhnya... blleeeepppsssph... Gileeee... mekinya peret abiiiissss... emang bener kata orang, empot2 ayam Madura punya....“auuuughh........ mmaassshhh.... seseeeeekkkhhhh.... gedhe bangeth kontol kamu masssshh.... punya bojoku gak segede iniiiihhh.... uuuughhh... ssshhh...” “enakh ya Sum.... tempik kamu peret dan legit Sum.... enak mana sama suami kamu..??” “enakh ini masshh... ayo masshh.. genjoth terussshh... puasin akuuuuhh.. sshhhh....” kata Sumi sambil matanya merem melek keenakan...
Setelah 10 menit, Sumi capek, minta ganti posisi. Tanpa melepaskan diri, kami berganti women on top. Sumi sedikit mengernyit kesakitan saat lututnya yg memar coba ditekuk karena dia ambil posisi jongkok. Namun itu tak lama karena kalah dengan kenikmatan yang dia terima akibat meki legitnya diobok-obok sama belalai gajahku.. hehehehe... Dalam posisi ini, jepitan dan empotan Sumi makin terasa memijat-mijat batangku. Dia menggoyang pinggulnya membuat kontolku berasa dipilin-pilin... kombinasi empotan, pijitan dan putaran membuatku hampir jebol... Aku mencoba bertahan...

Sumi terus bergoyang sambil mendesis-desis keenakan.. sampai akhirnya goyangannya makin tak beraturan... dan tiba-tiba dia melenguh...”uuggghhh... massss.... aku nyampe lagiiii..... heeeghhhh....” katanya sambil aku merasakan kontolku seperti dijepit ama besi... kenceng banget jepitannya... setelah beberapa kedutan, tubuhnya ambruk menindihku.... sambil berbisik.. “massh.. kamu kuat bangeth.... hhhuuuuffftttt...” aku Cuma tersenyum dan meremas2 pantatnya... “Sekarang kamu puasin aku ya Sum?” Sumi hanya mengangguk. Aku ajak Sumi ambil posisi DS, tapi karena lututnya sakit, maka aku suruh berdiri nungging sambil berpegangan pada sandaran sofa.. Wuuuuiiihhhh.... seksi banget Sumi dalam posisi begini... Susunya gede menggantung namun tidak kendor.. meki tembemnya mencuat di sela paha dengan rona merah muda di antara bulu2 hitam... uuuhhh.. seksiiiii....

Tak lama, setelah aku sedot-sedot dan kocok dengan jariku, meki Sumi telah siap menerima tongkat ajaib pembawa nikmat.... Segera aku ambil posisi dan.. blllessshhhppph.... “uuggghhhhh....” Sumi melenguh ketika kontolku memasuki mekinya.... Genjot... genjot... sambil meremas2 susu Sumi yang seksi saat bergoyang-goyang karena genjotanku... makin menambah seksi.... Sekitar 10 menitan dalam posisi DS, aku merasakan meki Sumi berkedut-kedut lagi.. kayaknya mau orgasme yg ketiga kalinya.. maka kupercepat kocokanku di mekinya... Tak berapa lama kemudian , Sumi menjerit...” massssshhh... mau nyampe lagiiii..... ayo masssshhhh... genjooottthhh....” “iya Summmh.... aku juga udah mau nyampe... sssshhhh.... kita barengan yaaa... ,“ kataku. “ayo mashhh.... gak kuat lagi mashhhh....mmmaaaashhhhhh..... uuuuffffttt.....” Sumi makin meracau. Pada saat yg sama, kontolku udah berdenyut-denyut pula. Kupercepat tempo kocokanku hingga akhirnyaaaa... “Suuuuuummmhhh... aku keluarrrrrrrhhhhh.....” kataku. “Semprot di dalam aja mash.... heeeeegghhh....” jawab Sumi sambil mengejang karena orgasmenya sudah sampai berbarengan dengan aku menyemprotkan spermaku beberapa kali... Dalam posisi begitu, aku masih merasakan kedutan dan pijitan yg luar biasa dari meki legit Sumi. Sambil menunggu kontolku mengecil, tetap saja kutancapkan di meki Sumi sambil terus meremas-remas toket idamanku.... Dan akhirnya plooph.. kontolku sudah mengkerut karena puas.. hehehe....

Lalu kami bersih2 diri di kamar mandi, hanya saling gosok saat menyabuni. Tidak main lagi, karena takut Sumi ditunggu Bik Sari yang pastinya bersiap pulang karena hari sudah menjelang siang. Tak terasa satu jam lebih kami bergumul. Aku pergi ke jalan untuk kembali melihat situasi. Karena sudah agak siang, jalanan di depan rumah sudah mulai sepi, maka aku beri kode pada Sumi untuk keluar dan kembali ke kiosnya. Aku gak tau apa alasan Sumi pada bik Sari, yg penting aku tau satu hal, Sumi dan aku puas. Sebelum berpisah, kami berjanji utk lebih sering berbagi kenikmatan, karena aku adalah orang yang baik hati, membantu menyirami kegersangan rumput tetangga...
sumber: http://www.ceritadewasax.com/2013/08/certa-dewasa-menikmati-memek-empot.html

Cerita Seks | Atasanku Bikin Aku Ketagihan


Cerita Seks | Atasanku Bikin Aku Ketagihan | kapankah.com | Gue cowok yang masih single. Gue kerja seruang dengan seorang cewek cantik. Dia atasan gue, orangnya cantik dan montok menggoda. Dia suka membuat ****** gue naik terus. Nggak heran dia punya hobby ngesex. Gue juga punya hobby yang sama. Tapi tidak semaniak dia. Hampir tiap hari dia ngesex dengan cowok yang disenanginya, bahkan gue sering diajak 'Anu' sama dia. Disamping gue senang dan menikmati tubuhnya yang aduhai itu, gue juga tidak berani menolak perintahnya.. pokoknya "A.I.S"-lah.. itu..tuu.. Asal Ibu Senang. Dan gue dijanjikan naik pangkat dan tentu saja gaji naik juga dong plus bonus tubuhnya yang montok itu.

Dia orangnya cantik meskipun umurnya jauh diatas gue. Karena dia selalu suka pakai rok 'super' mini warna putih transparan. Maka gue tahu kalau dia tiap hari nggak pernah pakai CD. Yang gue heran ama dia, pas dia ada di luar ruang kerja dia selalu pakai rok biasa bahkan pernah pakai celana. Tapi pas ada di ruang kerja kita dia selalu pakai rok 'super' mini itu. Jadi kalau ada sesuatu yang dia butuhkan dia selalu minta tolong gue yang ngurus. Meja kerjanya yang berada di depan gue, jadi gue bisa melihat apa yang dikerjakannya. Tiap menit dia selalu memancing nafsu gue. Dia sering pura-pura lihat suasana diluar jendela, padahal dia ingin memeperlihatkan kemontokan pantatnya yang super montok itu. Lalu dia pura-pura melihat hasil kerja gue sambil dekat-dekat terus dia menundukkan kepalanya.. lalu yah jelaslah payudaranya yang tergantung bebas tanpa halangan dari BH. Dia goyangkan badannya, maka bergoyanglah payudara itu kiri-kanan-kiri lagi.. Tapi yang paling parah, dia pura-pura menjatuhkan bulpen di lantai, terus dia jongkok membelakangi gue. Pas dia nunduk, roknya tersingkap keatas jadi terlihatlah pantatnya yang montok putih dan memeknya yang putih kemerahan dengan bulu yang tampak menantang untuk dijamah. Pas dia udah ambil itu bolpoint, eh.. dijatuhin lagi terus nungging lagi.. lagi.. lagi.. Dia goyangin itu pantatnya maju-mundur, bawah-atas..lalu dia renggangkan kakinya sehingga memeknya yang lezat itu merekah bagai bunga 'mawar' dan begitu seterusnya. Hingga gue nggak tahan akan kelakuannya itu. Langsung aja gue deketin dia terus gue obok-obok 'anu-nya'.. Dan ternyata.. apa yang terjadi.. ohh..

Dia menikmati sentuhan-sentuhan gue. Saat ini gue bekerja dengan lidah gue. Gue jilat sedikit kacangnya dan di "suck" agar basah. Nggak samapai dua menit udah tampak ada cairan bening di memeknya. Karena ****** gue udah nggak tahan, lalu gue masukin ****** gue ke memeknya. Dia mendesis - meronta - mengerang nikmat(3M) demikian juga gue. Hangat dan lembab. Lalu gue mula goyang kiri kanan, maju-mundur dan kadang-kadang gue putar. Dia bener-bener hebat, setelah gue agak pasif dalam gerakan gue karena udah hampir nyampe. Dia dengan perkasa menggoyang tubuhnya maju-mundur, kanan-kiri dan berputar dengan garang.

Sementara gue makin berat nahan orgasme gue, akhirnya..

"Bu boleh keluarin di dalam..?"kataku.

"Boleh aja sayang, emang sudah hampir.. ya?"katanya sambil terus menggenjot pantatnya maju-mundur.

"Ya, bu"kataku.

"Kita sama-sama ya, hmm..ohh..".

Dengan sisa tenaga gue goyang lagi sampai gue terasa enak bener karena orgasme gue udah sampai deket pintu helm "NAZI".

Lalu gue peluk dia dari belakang sambil gue remes dadanya. Dan cret.. cret.. cret. cret, air mani gue muncrat didalam lubang memeknya. Dan diapun merintih ohh yes dan lalu mencengkeram kursi dengan erat serta badannya bergetar dan menegang.. Rupanya dia klimaks juga. Dengan ****** dan memek masih bersatu gue tetep peluk dia dari belakang.

Dia tersenyum puas lalu melumat bibirku. Dia bilang kontolku enak banget sih. Dia kangen katanya kalau nggak dicoblos kontolku barang sehari. Nggak lama gue peluk pinggangnya kuat-kuat dari belakang sambil ngerintih akhh.. akhhgg dan lalu di dinding memeknya kubikin terasa hangat karena semprotan sperma gue tadi. Nggak ke tulungan enaknya katanya, tapi dia harus buru-buru ngrapiin baju dan nyuci memeknya. Habis gituan luemes banget dan nggak bisa kerja lagi. Abis sambil berdiri sih.

Enak juga lho making love di kantor. Apalagi kalau lembur jangan dibilang. Di meja kerja, di WC, di lift, di lantai atas gedung atau juga di dalam mobilnya juga bisa, rasa takut ketahuan itu selalu ada, tapi kenikmatannya lain dari pada yang lain, pokoknya sensasinya lain.

Malamnya gue diajak ke pub. Setelah jam dua belas malam, gue ajak dia pulang. Dia kutuntun ke mobilku karena dia mulai mabuk akibat terlalu banyak mengkonsumsi minuman dan kuantarkan ke apartemennya. Gue bingung mengapa dia nggak pulang ke rumahnya sendiri.. mengapa kesini. Kuantar sampai ke dalam kamarnya di lantai 7, gue istirahat sejenak di sofanya. Dia bangun dan menghampiri gue untuk mengucapkan terima kasih dan selamat malam.. tapi tubuhnya jatuh dalam pelukan gue sehingga nafsu gue untuk meng'anu'nya mulai bangkit. Kuciumi dari kening, mata, hidung hingga mulut sensualnya disambutnya ciuman gue dengan permainan lidahnya yang sudah profesional.

Lama kami berciuman dan gue mulai meremas teteknya yang agak kenyal.. lalu kubuka resleting bajunya..kemudian kususupkan tanganku ke dalam behanya untuk meremas teteknya lagi dan memainkan putingnya.. sambil terus berciuman. Satu persatu pakaiannya jatuh ke lantai.. BH.. CD.. tapi kami masih berciuman. tanganku tak tinggal diam.. meremas diatas sesekali memainkan puting dan meraba dan memainkan di bagian memeknya.. oi.. jembutnya yang menggoda.. lezatnya..

Memeknya telah banjir akibat otot memeknya mengeluarkan cairan karena rangsangan dari gue.. tangannya mulai membuka satu persatu pakaianku sampai kami berdua full bugil. Kusodok sodok jari tengahku ke dalam memeknya ..sshh.. oohh.. gung.. please.. sshh.. don't stop..aahh.. terus jariku telunjukku memainkan itilnya yang mulai menegang .. sshh.. aahh.. dan dia mulai merebahkan badannya di sofa kuciumi lagi putingnya dan kusodok-sodok lagi memeknya dengan dua jari.. sshh.. aahh..oohh my goodd..sshh .. dia mulai mencari-cari kontolku yang sudah tegang sejak tadi.. dan mulai menghisap kontolku .. mulai dari kepala .. sshh .. aahh.. buu.. aahh.. sshh .. perlahan lahan mulutnya masuk dan melahap kontolku semuanya sshh ..hhmm.. kutambah jariku satu lagi hingga tiga yang masuk ke dalam memeknya sshh.. aachh.. tambah satu lagi hingga hanya jempol saja yang masih di luar memainkan itilnya.. sshh.. hhmm.. gue lepaskan kontolku dari mulutnya dan mulai kuarahkan ke bibir memeknya yang banjir.. perlahan lahan kudorong kontolku.. sshh.. oohh.. honey.. hhmm.. bibir bawahnya menggigit bibir atasnya.. kuangkat kedua pahanya dan kusandarkan di sandaran sofa yang sebelah kiri sedang yang kanan kuangkat.. dan bless.. aahh.. sshh.. kuayunkan perlahan lahan.. sshh.. oohh my god.. come on.. sshh..terus kuayunkan hingga kupercepat ayunanku .. sshh.. buu.. saya mau keluar buu..sshh.. keluarin di dalem aja sayang..ohh aahh.. kedua pahanya mulai dijepitkan pada pinggangku sambil terus menggoyangkan pantatnya sshh.. aahh..

Tiba-tiba dia menjerit histeris oohh..sshh.. sshh..sshh.. ternyata dia sudah keluar.. gue terus menggenjot pantatku semakin cepat dan keras hingga mentok ke dasar memeknya sshh.. aahh.. dan aagghh.. crett.. crreett.. ccrreett..kutekan pantatku hingga kontolku menempel dasar memeknya.. dan keluarlah pejuku ke dalam liang memeknya.. sshh.. bbrr.. saat terakhir pejuku keluar.. guepun lemas tetapi tidak gue cabut melainkan menaikan lagi kedua pahanya hingga dengan jelas gue lihat bagaimana kontolku masuk ke dalam memeknya yang di kelilingi oleh jembutnya yang menggoda.. kubelai jembutnya sambil sesekali menyentuh itilnya. Ssshh.. aahh.. gue mulai mengayunkan kembali kontolku.. biar agak ngilu gue paksakan..kapan lagi.. sshh.. aahh.. hhmm.. gue meminta dia untuk posisi nungging dengan tidak melepaskan kontolku dalam memeknya.. kontolku terasa dipelintir oleh memeknya.. terus kugenjot lagi ..sshh dan.. sshh.. dia mendorong pantatnya dan aachh.. lebih cepet honey ..sshh.. dia sudah keluar lagi

Gue masih asik mengoyang pantatku sambil meremas teteknya yang dari tadi gue biarkan.. sshh.. hhmm..aahh.. dan creett.. creett.. guepun menekan pantatku dan menarik pinggulnya hingga kontolku mentok lagi di dasar memeknya.. kami berdua sama lemas..

Dia ambil sebatang rokok.. dinyalakannya dan dia hisap itu rokok.. persis seperti saat dia menghisap ****** gue.. kami duduk dan sama menikmati permainan tersebut sambil dia merokok kami saling mengobok-obok kemaluan masing-masing.. Kuangkat tubuhnya ke tempat tidur.. kami tidak membereskan pakaian kami yang masih berserakan di lantai ruang tamu.. gue putar jam bekerja tepat pukul 5 soalnya gue mau pulang.. Dia mulai merapatkan matanya sambil tangannya merangkul dan tubuhnya yang berkeringat merapat ke tubuhku.. meskipun udara di rungan sudah dingin tetapi tubuh kami masih berkeringat akibat permainan tadi..

Pada kesempatan lain gue datang ke rumahnya nganterin surat-surat penting. Kebetulan siang itu dia lagi sendiri. "Oh kamu sayang.. ayo cepet masuk..ehhmm"katanya sambil nutup pintu. "Iya bu, saya cuma mau ngantar surat
ini "kataku.

Terus gue minta pamit pulang.. tapi.. "Aduh koq buru-buru amat sih.. ibu mau minta tolong lagi.. boleh khan .."katanya manja. Lalu, matanya merem melek sambil lidahnya dikeluarkan, gue udah tahu pasti dia pengen ngentot lagi nich. Pokoknya udah nggak tahan deh. Langsung gue diajak dia masuk dan duduk di teras. Waktu itu dia pakai baju kulot putih transparan. Terlihat payudaranya yang montok dengan putingnya yang menyembul dari balik bajunya. Gue lihat dia lagi 'super' nafsu, lalu dia pancing gue untuk making love. Gue sih "A.I.S" saja.

Lalu kulot dan CD dilepaskan step by step, lalu memeknya gue raba-raba, dan kelentitnya gue diplintir sampai dia terangsang banget. Terus baju, celana dan CD gue diplorotin. Lalu kita duduk di lantai teras. Dalam posisi duduk santai kakiku selonjor, dia sedot-sedot kontolku sampai gue mendesah-desah dan kontolku menjadi tegang dan keras. Dia kangkangi kakinya terus dia pegang kontolku yang udah keras sambil mengarahkan ke memeknya yang sudah basah dan merekah itu.

Aduh enaknya terus dia naik turun terus sambil digoyang-goyang terus dikocok terus sampai kenikmatan yang tak terhingga. Rasanya dia jadi lemas dan capai, tapi dia berusaha tidak mau udahan. Kayaknya teriak tertahan, mungkin dia takut kedengaran tetangga. Dia terus naik turun dan gue juga ngimbangi dari bawah, terus sampai akhirnya gue dan dia pelukan erat-erat karena dia sudah merasa hampir klimaks, dan nggak lama dia pun menegang dan akhirnya sama-sama puncak dan keluar. Pokoknya nikmat banget, dan badan gue juga terasa lemas tak bertenaga kepinginnya nggak mau lepas dari tubuhnya. Tanpa pakai celana dulu dia pergi ke kamar mandi. Pantatnya yang montok bergoyang kanan-kiri-kanan-kiri.. Kadang dia menundukkan tubuhnya sehingga posisinya nungging ke arah gue.. sehingga memeknya terlihat merekah.. ohh. Gue melotot lihat tingkahnya begitu seronok. Ah gue cuek aja. Yang penting.. uueennaakk.. ooii.. Byyee..

sumber : http://www.ceritadewasax.com/2013/05/aku-dibuat-ketagihan-oleh-atasanku.html

Senin, 05 Agustus 2013

Jasa Pemasangan Iklan Banner


Jasa Pemasangan Iklan | Iklan Betting | Pasang Iklan Banner | Pasang Iklan Betting

Syarat dan ketentuan:

  1. Iklan tidak mengandung unsur sara, pornografi dan yang melanggar hukum yang berlaku di Indonesia.
  2. Banner iklan berformat JPG, JPEG, PNG, GIF, JavaScript, Flash dan Iframe.
  3. Isi dan kandungan iklan merupakan tanggung jawab sepenuhnya pemasang iklan.
  4. Iklan akan segera Kami terbitkan jika pemilik iklan telah mengirim beban biaya sesuai kesepakatan.
  5. Pemberitahuan masa tenggang tayang iklan akan Kami kirim melalui email 1 (satu) Minggu sebelum masa tayang iklan habis.
  6. Kami berhak mencopot iklan jika tidak ada perpanjangan dari pemasang iklan.
  7. Biaya pemasangan iklan sewaktu-waktu dapat berubah yang akan disesuaikan dengan trafik blog.
Tersedia Berbagai ukuran banner normal

Jika anda berminat hub kami :
YM : adv.kapankah@yahoo.com
Email : ragils790@gmail.com
No HP : +6281329041911
Pin BB : By Request

Minggu, 04 Agustus 2013

Cerita Dewasa : Gairah Mesum di Bioskop Umum

Cerita Dewasa : Gairah Mesum di Bioskop Umum Pembaca Cerita Dewasa,Vina dengan iri memandangi para penonton di bisokop itu yg sedang berduaan dengan pacarnya , sedangkan ia duduk di runag tunggu ini sendirian tanpa ada seorangpun yang menemani.
Beberapa hari yang lalu vina mendengar klo pacarnya selingkuh dengan kawan baiknya , awalnya vina ga percaya , namun kemarin ia melihat dengan mata kepalanya sendiri dan dengan perasaan sakit hati , ia langsung memutuskan hubungan dengan pacarnya.


Hari ini ia merasa suntuk dan bete dirumah , maka ia memutuskan untuk pergi saja ke bioskop sendirian , kebetulan film yg ia tunggu sudah diputar di bisokop.
Vian bersiap pergi ke bisokop , ia bercermin untuk terakhir kalinya, cermin di kamarnya memantulkan sosok wajah cantik, dengan tank top biru muda menutup tonjolan di dada yg cukup besar , rok mini denim , memeperlihatkan keahlusan dan kemulusan kaki seorang gadis belia . puas dengan penampilannya ia pun segera pergi ke bioskop.

Di dalam ruang teater , susananya cukup penuh , karena ini adalah pemutaran perdana alias premiere.
Vina menempati tempat duduknya , dan sementara film belum mulai diputar , pikiran vina melayang , memikirkan tentang mantannya dan masa masa indah dulu.

"maaf...permisi mbak ...numpang lewat......." sebuah suara mengaggetkan vina.
seorang pria tampan tampak tersenyum pada vina , tatapan pria itu menimbulkan perasaan aneh pada diri vina.
"ooh..ya ..maaf..." kata vina tersadar dan memberi jalan untuk pria itu lewat, dan ternyata pria itu duduk tepat disebelahnya.
setelah duduk pria itu kembali menatap vina,, tersenyum dan mengucapkan terima kasih, perasaan aneh pada diri vina kembali muncul, entah apa.... vina tak mau terlalu ambil pusing , film sudah dimulai.


Film sudah berjalan setengahnya , saat vina merasakan ada yg menyentuh lengannya, ia menoleh dan melihat pria itu sedang mengelus elus lengan vina tapi tatapan matanya tetap pada layar.
Vina bisa saja marah dan memaki maki pria kurang ajar itu , namun entah mengapa ia membiarkan pria itu mengelus elus lengannya.
merasa tak ada penolakan dari vina , pria itu terus mengelus elus lengan vina, sambbil terus menatap pada layar.
Vina sendiri hanya terdiam nafasnya seolah terhenti , ia tak bisa ( atau tak mau) menolak perlakuan pria itu , ia malah memejamkan mata seolah menikmati sentuhan demi sentuhan yg dilakukan oleh pria disebelahnya. Getaran getaran di tubuhnya terasa semakin kuat.

Vina segera membuka mata dan tubuhnya bagai kena sengatan listrik saat ia merasakan tangan pria itu melewati lengannya dan menyentuh buah dadanya, awalnya hanya sentuhan sentuhan kecil , namun ketika kembali tak ada reaksi penolakan dari vina , sentuhan pria ini berubah menjadi remasan remasan yg membangkitkan bbirahi vina.

Dengan sedikit takut vina meoleh ke penonton di sebelahnya , ternyata org itu serius menonton.
Pria asing itu terus menerus meremas buah dada vina, menyebabkab puting vina perlahan mengeras tanda vina sudah sangat terangsang.
Pria itu sepertinya tahu hal itu , maka dengan berani tangannya menelusup masuk ke balik tank top vina dan menyentuh langsung buah dada itu.
tiba tiba handphone penonton disebelah berbunyi , membuat pria itu dengan segera menarik tangannya dan duduk manis seolah tak ada apa apa.

VIna sendiri masih bingung apa yg terjadi , ia sama sekali tak kenal pria ini tapi ...kenapa ia membiarkan pria itu berbuat kurang ajar padanya , membiarkan menyentuh tubuhnya , bahkan saat ini birahi vina semakin naik dan berharap pria ini kembali menyentuhnya.

Setelah beberapa menit , Vina merasakan ada yag menelusup masuk ke balik rok pendeknya, mengelus elus paha mulusnya.
Vina hanya menarik nafas panjang sambil menatap pria itu, dan seperti sebelumnya sambil menyentuh vina pandangan pria itu masih terarah pada layar.
Vina mengerang tertahan saat sentuhan pria itu tiba di bagian sensitifnya , jari jari pra itu bergerak menggeliitk dengan gerakan putaran, tanpa sadar vina semakin melebarkan kakinya.

Cerita Dewasa : VIna semakin terangsang dengan sentuhan erotis pria itu , vaginanya sudah mulai basah.
bahkan dalam diri vina ingin membalas perlakuan pria itu , dan menyetuh penisnya , ia seolah ingin penis pria itu masuk ke mulutnya.

Vina memandang pria itu , yg ternyata juga sedang memandangi vina.
Mereka berdua saling berpandangan cukup lama , sampai akhirnya pria itu tersenyum dan bangkit sambil menarik tangan vina unutk ikut dengannya , vina sendiri dengan patuh ikut dengannya.

Dengan berdebar debar penuh gairah , vina mengikuti pria itu dan masuk ke toilet wanita, saat itu toilet sedang kosong.
Setelah mengunci pintu , mereka berciuman dengan ganasnya seolah mereka sepasang kekasih yg telah lama tidak bertemu.
Pria itu menarik pinggang Vina dan merangkul erat tubuh molek gadis itu , vina bisa merasakan tonjolan penis pria itu menyentuhnya.
Ciuman mereka semakin ganas , lidah merak saling menyapu , pandangan mata mereka memancarkan gairah yg tak tertahankan.
Sambil terus berciuman, tangan pria itu beraksi di balik tank top vina , dan meremas remas nya sedikit keras, sampai akhirnya pria itu melepas tank top itu.
Pria itu menggemgam bulatan buah dada vina, menurunkan kepalanya dan mulai menjliati buah dada yg indah itu.
Ia menjilati puting vina dengan ujung lidah , meniupnya pelan , membuat vina bergidik dan geli, dilanjutkan dengan mengulum dan menyedot buah dada itu , lidahnya bergerak gerak memutar , membuat vina merintih nikmat , meresapi sensasi sensual ini.

Vina kemudian menurunkan tubuhnya membuka kancing celana pria itu dan menurunkannya.
Pria itu hanya tersenyum menatap vina , saat vina juga menurunkan celana dalam yg mengurung penisnya.
Tak membuang waktu , Vina menggengam penis itu ,menjliati dan mengulumnya sehingga makin mengeras.
Vina bisa merasakan denyutan penis itu saat beraksi dengan jilatannya. Ujung kepala penis itu vina jilati memutar dengan lidahnya lalu kemudian dikulumnya beberapa saat dan diulang kembali, terus sampai vina semakin kuat menyedotnya.
nafas pria itu terdengar semakin berat menahan birahi.

Denyutan penis itu dirasakan vina semakin kentara saat tak lama kemudian memuntahkan isinya , langsung masuk ke tenggorokan vina.
Semburan spermanya ternyata cukup banyak ,vina tak mampu menelan semuanya , sebagian menetes diantara bibirnya yg manis. tanpa merasa jijik vina menelan cairan asin itu dan menjilati sisa sia yg menempel di penis pria itu.
"giliran saya..." kata pria itu samil mendorong vina ke dinding.

Pria itu melepaskan rok mini vina dan tentu saja bersama dalamannya.
Pria itu menciumi pangkal paha vina , menjilatinya , memainkan lidahnya di bibir vagina dan clitnya membuat vina tersiksa oleh kenikmatan.
Jilatan lembut pria itu diselingi dengan sedotan sedotan yg membuat vina makin menggelinjang tak tertahankan, mengetahui vina sudah terangsang tak tertahankan. pria itu berdiri dan tanpa basi basi langsung menusuk vagina itu dengan penisnya.

"aaaauhhhhhwhw...." vina mengerang saat penis itu menerobos masuk ,untuk memudahkan pria itu menagngkat kedua kaki vina dan kemudian mulai mendorong dorong keras penisnya masuk semakin dalam.
vina tak bisa menahan erangannnya , mulutnya terus merintih dan mengerang menikmati serangan demi serangan.

tiba tiba si pria mencabut kembali penisnya , membalikan tubuh vina , sedikit dibungkukkan dan menembusnya kembali dari belakang.
vina kemudian menyadari dalam posisi seperti ini , ia tak mungkin mencapai orgasme , maka ia memaksa pria itu mencabut kembli penisnya , medorongnya duduk di toilet, dan vina naik ke atasnya.
VIna mencari posisi yg tepat ,, hingga penis pria itu kembali menembusnya .

posisi seperti itu ternyata menguntungkan juga bbagi pria itu , ia bbisa meremas buah dada yg menggemaskan itu . setiap vina bergerak buah dadanya turut bergoyang menggoda.
Butuh waktu yg agak lama sampai akhirnya mereka mencapai puncak dari kenikmatan permainan mereka.

Setelah puas mereka kembali berpakaian dan secara terpisah kembali ke tempat duduk masing masing ,
dan saat film usai . si pria asing itu tersenyum pada vina dan menjatuhkan sebuah kartu nama pada pangkuan vina.

sumber ( http://www.novelremaja.com/2013/02/cerita-dewasa-berbuat-mesum-di-bioskop.html)

Kamis, 01 Agustus 2013

CERITA SEXS PANAS | DIGOYANG ISTRI PAMANKU


CERITA SEXS PANAS | DIGOYANG ISTRI PAMANKU - Cerita Panas. Ma, minta susu...! teriak seorang bocah kepada mamanya.

"Iya bentar!" teriak mamanya dari dalam kamar.
Bocah kecil tersebut adalah anak dari mama yang disebut tadi. Kita sebut saja namanya Ras. Ras merupakan istri dari abang mama saya, mengertikan? Jadi saya seharusnya memanggilnya bibi, tapi karena suatu alasan, dia kami panggil Mbak dan dia tidak keberatan kok dipanggil begitu. Suaminya saat itu bekerja di luar negeri dan dia ditinggal di rumah mertuanya yaitu nenek saya. Suaminya telah lama pergi dan hanya pulang sekali dalam setahun.

Pada saat itu umur saya baru akan menginjak 17 tahun, dan sekolah di salah satu perguruan swasta di kota saya dan pada saat itu sekolah kami sedang libur, jadi otomatis di rumah sepi karena semua penghuni rumah sudah keluar entah ke mana. Di rumah kami tinggal bersama nenek, dan 5 orang sepupu saya yang tentu saja lebih kecil dari saya semuanya.

Cerita Panas Jam baru menunjukkan pukul 9.00 pagi. Nenek saya sedang pergi ke pasar dan biasanya bila beliau ke pasar tidak pernah sebentar. Kelima sepupu saya sudah keluar dari tadi pagi jadi yang tinggal di rumah cuma saya dan Mbak Ras serta anaknya yang baru berumur 5 tahun. Saya dan Mbak Ras bisa dibilang sangat dekat, karena kami sering berbicara dan bercanda bersama. Jadi di antara kami berdua sangat terbuka. Namun pada saat itu saya tidak berani berbuat macam-macam kepadanya, tapi kalau berpikir macam-macam sih pasti ada, he he he.
"Ma, buatkan susu dong!" celoteh bocah tadi menagih janjinya tadi.
"Iya, nih tiap hari minum susu aja. Susu mahal tau!" mamanya menyodorkan sebotol susu kepada anaknya dan diterima anaknya dengan gembira tanda bahwa dia tidak mau mengerti tentang kemahalan susu.

Memang anaknya setiap bangun tidur dan sebelum tidur selalu meminta susu. Kebetulan lagi pada saat itu saya baru selesai sarapan pagi dan timbul keisengan saya untuk bercanda kepada Mbak Ras.
"Saya juga minta susu dong Mbak!" kata saya sambil menyodorkan gelas kepadanya.
"Eh.. loe itu udah gede, itu kan susu buat anak-anak", balas Mbak Ras.
"Lho, jadi kalau udah gede gak boleh minum susu?" tanya saya sambil pasang muka tak berdosa.
"Bukannya nggak boleh, tapi itukan susu buat anak-anak", tegasnya sekali lagi.
"Jadi yang buat orang dewasa mana?" tantang saya kepadanya.
"Ini!" sambil menunjuk kepada buah dadanya yang sepertinya cukup besar dan padat itu.
Terang saja saya terkejut, dan saya pun malu karena dia tidak biasanya bercanda sampai begitu.

Cerita Panas Sebenarnya saya tahu kalau dia itu sebenarnya sudah sangat haus dengan seks. Bayangkan saja selama hampir setahun tidak berhubungan dengan suaminya, siapa yang tahan. Dan argumen saya ini juga telah saya buktikan. Kebetulan kamar saya yang berada di lantai 2 tepat di atas kamar mandi, dan lantai 2 hanya berlantaikan papan jadi iseng-iseng saya melubangi papan itu biar bisa mengintip orang mandi. Saya sering mengintip Mbak Ras mandi dari lubang itu dan saya lihat bahwa Mbak Ras sangat sering merangsang dirinya sendiri di kamar mandi, misalnya dengan memijat-mijat dadanya sendiri dan mengelus-elus kemaluannya sendiri. Jadi dari itu saya mengambil kesimpulan kalau dia sering terangsang.

"Kok bengong? mau minum susu nggak?" ucapnya membuyarkan lamunanku.
"Apa masih ada? anak Mbak kan udah lima tahun?" jawab saya menetralisir kekagetan saya.
"Gak tau dech.. kamu coba aja, hehehe... udah dech.." katanya sambil melewati saya menuju kamar mandi kemudian berbisik sekilas kepada saya.
"Pintu kamar mandi nggak Mbak kunci."
Terang saja saya senang sekali, soalnya saya sering baca buku porno dan pernah berkhayal kalau saya melakukan hubungan badan dengan Mbak Ras dan sepertinya sekarang bisa terwujud. Saya membuka pintu kamar mandi perlahan dan saya lihat Mbak Ras sedang membelakangi saya menggantung pakaian yang akan dipakainya. Dengan perlahan juga saya tutup pintu kamar mandi dan menguncinya tanpa suara.

Cerita Panas Saya melihat Mbak Ras mulai membuka baju tidurnya tanpa membalikkan tubuhnya. Sepertinya dia tidak sadar kalau saya sudah berada di dalam. Setelah baju dilepas kemudian tangan saya menuju ke pengait BH-nya bermaksud membantu membuka BH-nya. Dia kaget karena tiba-tiba ada orang di belakangnya namun setelah mengetahui bahwa yang di belakangnya adalah saya dia tersenyum dan membiarkan saya melanjutkan kegiatan saya. Setelah BH-nya terbuka saya kemudian melemparkannya ke tong tempat baju kotor.

"Mbak, susunya boleh saya minum sekarang", tagih saya kepadanya.
Dia hanya mengangguk dan kemudian membalikkan badannya. Terlihatlah olehku dua buah tonjolan di dalamnya yang selama ini belum pernah saya lihat secara langsung. Sebelumnya saya hanya mengintip. Kemudian dia menyodorkan dadanya kepada saya dan dengan cepat saya sambar dengan mulut saya. Dia hanya mendesis tidak jelas. Lama saya menghisap dan menjilat kedua dadanya membuat dia terus menggelinjang dan menjambak rambut saya. Dadanya kanan kiri secara bergantian menjadi korban keganasan lidah saya.

Cerita Panas Mbak Ras kemudian secara lembut membuka kaos saya dan tanpa saya sadari kaos saya sudah terlepas. Mungkin karena keasyikan meminum susu alam. Sementara tangan saya yang kiri mulai meraba-raba perutnya sedangkan yang kanan mengusap-usap dadanya yang sebelah kanan. Sementara mulut saya dengan menjulurkan lidah keluar mempermainkan puting susu yang sebelah kiri yang membuat Mbak Ras semakin ngos-ngosan. Tangan saya sebelah kiri mulai nakal dengan menyusupkan jari-jarinya ke celana tidurnya yang belum dibuka. Tangan mbak pun tidak mau kalah, dia pun mulai mencari-cari sesuatu di selangkangan saya dan setelah menemukannya dia pijat dengan lembut. Kemaluan saya yang merasakan ada rangsangan dari luar celana semakin meronta minta keluar. Mbak Ras yang sudah berpengalaman itu kemudian membuka reitsleting celana saya dan kemudian melorotkannya ke bawah dengan menggunakan kakinya karena dia tidak bisa membungkuk sebab dadanya sekarang masih berada dalam kekuasaan saya.

Setelah CD saya dibuka, tangannya yang sekarang lebih nakal mulai mengocok perlahan batang kejantanan saya dan itu jelas saja membuat saya terbang tinggi, sebab baru kali ini batang kejantanan saya yang satu ini dipegang oleh tangan seorang wanita yang lembut. Mbak Ras makin menjadi ketika jilatan saya turun ke perutnya dan bermain di sekitar pusarnya dan kemudian dengan sekali tarik celana tidur yang dari tadi menghalangi pemandangan indah saya buka dan sekarang di depan saya berdiri seorang wanita hanya dengan celana dalam krem yang jika diperhatikan lebih seksama bisa dilihat transparan, tapi siapa yang sempat melihat ketransparanannya itu kalau sudah terangsang.

Jilatan saya turun agak ke bawah menuju ke kemaluannya yang ditumbuhi bulu-bulu yang rapi namun karena sudah basah terlihat acak-acakan. Saya menjilati liang kemaluannya dari luar CD-nya. Itu sengaja saya lakukan agar bisa lebih merangsangnya. Dan ternyata benar dia tidak sabar dan segera menurunkan CD-nya sendiri. Saya hanya tersenyum memandang ketidaksabarannya itu, dan jilatan saya lanjutkan tetapi tetap belum menyentuh lubang kenikmatannya itu yang membuat dia blingsatan dengan menggerakkan pinggulnya ke kiri dan ke kanan yang bertujuan agar jilatan saya berlanjut ke liang kemaluannya. Saya lihat kemaluannya sudah banjir, karena tidak pernah merasakan cairan dari wanita maka jilatan saya pun merambah ke liang kemaluannya. Asin! tapi kok enak yah kata saya dalam hati.

Mbak Ras pun kembali mendesis keenakan, "Ahhh... terus Tango", ujarnya. Lidah saya pun mulai bermain cepat. Tiba-tiba tubuh Mbak Ras mengejang dan diikuti dengan desahan panjang, "Ahhh... nikmat sekati Tango. Pemanasan kamu sungguh hebat." Kemudian dia pun duduk di lantai kamar mandi dengan perlahan. Setelah puas dengan kemaluannya, saya kembali ke atas dan mencoba untuk melumat bibirnya. Bibir yang dari tadi mendesis tidak karuan itu kemudian melumat bibirku yang baru saja sampai di depannya. Lama kami saling melumat sambil tangan kanan saya memainkan puting susunya dan tangan yang satunya lagi mencari lubang kewanitaannya dan menekan-nekan klitorisnya yang jelas saja membuat lumatan bibirnya semakin menjadi.

Tangannya pun tidak mau kalah, sambil berpagutan dia mencari kembali batang yang tadi sempat dilepasnya karena kenikmatan yang dia rasakan. Setelah ketemu, kemudian dia mulai menggerak-gerakkan tangannya mengocok kemaluanku yang sudah sangat tegang dan membesar sambil sesekali mengusap bagian kepalanya yang sudah mengeluarkan cairan bening kental. Kemudian secara perlahan-lahan saya mendorong kepalanya ke belakang agar dia rebah ke lantai kamar mandi. Setelah dia rebah, Mbak Ras mendorong dada saya lembut yang membuat saya terduduk dan dia kemudian bangkit kembali. Saya terkejut, saya mengira dia telah sadar dengan siapa dia sedang bermain, namun dengan seketika keterkejutan saya hilang sebab dia kemudian dengan sikap merangkak memegangi kelamin saya dan kemudian dia malah memasukkan kelamin saya ke mulutnya.

Cerita Panas Ahh... terasa nikmat sekali sebab Mbak Ras sangat pandai memainkan kemaluan saya di dalam mulutnya. Saya bisa merasakan lidahnya bermain dengan lincahnya. Saya juga merasakan kepala kemaluan saya dipermainkan dengan lidahnya yang lincah itu. Setelah bermain lama di bawah situ, mulutnya kemudian merambah ke atas menciumi perut, kemudian dada saya dan kemudian kembali ke mulut saya, namun karena saya tahu dia baru saja melepaskan mulutnya dari kemaluan saya, saya berusaha menghindar dari lumatan bibirnya dan mencoba agar dia tidak tersinggung dengan mencium pipinya dan kemudian telinganya. Tangan saya yang menganggur kemudian saya suruh bekerja lagi dengan mengusap-usap selangkangannya dan terdengar dia berbisik kepada saya, "Masukkan ahhh... sekarang yahhh, Mbak udahhh kepingin... banget.. nih... ahhh."

Saya kemudian mengambil inisiatif dengan mendorong Mbak Ras agar kembali rebah dan dengan perlahan dia menuruti kemauan saya dengan rebahan di lantai kamar mandi. Saya kemudian mengambil segayung air dan menyiramkan ke tubuhnya dan kemudian satu gayung lagi untuk disiramkan ke tubuh saya sendiri.

Setelah kami berdua basah, tangan kanan saya kemudian meremas-remas dadanya sedangkan tangan kiri saya memegang kejantanan saya menuju ke lubang sejuta kenikmatan. Mbak Ras pun sudah siap menerima terjangan saya dengan membuka kedua kakinya agar memudahkan saya memasukinya. Dengan perlahan tapi pasti saya mencoba untuk memasukkan kepunyaan saya yang dari tadi sudah tegak ke kemaluannya. Namun karena sudah lama dia tidak tersentuh laki-laki, membuat saya agak susah juga untuk menancapkannya. Beberapa kali saya arahkan batang saya, namun agak susah untuk berhasil, dan setelah beberapa tusukan, akhirnya kelamin saya masuk dengan sukses ke selangkangannya. Yah, cengkeraman liang kemaluannya sungguh nikmat, karena saat itu liang kemaluannya sangat sempit dan itu sudah membuat saya merem melek, dan dengan gerakan pelan saya mulai menaik-turunkan pinggul saya. Saya melihat Mbak Ras mengerang kenikmatan sampai bola matanya hilang, dan dia juga meggerak-gerakkan pinggulnya ke kiri dan ke kanan dengan maksud agar semua ruang di liang kemaluannya terjejali dengan kemaluanku yang sudah mulai memompa. Setiap pompaan membuat dia mendesah tidak karuan.

Setelah beberapa menit, dia kemudian memelukku dengan erat dan membalikkan tubuhku dan tubuhnya. Kini dia sudah berada di atasku, dan gantian dia yang menaik-turunkan pinggulnya mengejar kenikmatan yang tiada tara. Sementara itu tanganku yang sudah bebas kembali memainkan susunya dan mengusap-usap punggungnya.

"Ssaayyaaa... udah ahhh... mau... keeeluar nihhh..." desahnya.
Mendengar desahannya yang begitu seksi saya semakin terangsang dan saya mulai merasakan ada sesuatu tenaga dalam yang ingin dikeluarkan dan semua sepertinya sudah terkumpul di kejantanan saya.
"Saya juga udah mau keluar Mbak...!" desis saya mempercepat gerakan pinggul saya dari bawah.
"Tahann... sebenntaarr..." katanya.
"Biaaarrr... Mbak kee... luar dulu... ouhh..."
Saya pun mengerti untuk tidak mengeluarkannya di dalam, sebab dengan alasan apapun saya tidak mau sperma yang saya keluarkan ini menjadi anak dari rahim bibi saya. Saya berusaha untuk menahan, sesaat kemudian terasa cengkeraman di kelamin saya terasa kuat dan terasa hangat, tubuh Mbak Ras kembali mengejang. Kalau saya tidak mencabut kemaluan saya dengan sedikit mendorong perut Mbak Ras, mungkin saya pun akan mengalami orgasme bersamaan dengan Mbak Ras. Untung saja saya sigap, sesaat kemudian Mbak Ras terkulai lemas di atas tubuh saya menikmati sisa-sisa kenikmatan. Paha saya terasa hangat karena pelumas yang keluar dari liang kemaluan Mbak Ras.

Saya pun memeluknya, dan membalikkan tubuhnya karena saya belum terpuaskan saya pun kembali merangsang Mbak Ras dengan jilatan di sekitar selangkangannya. Setelah berkisar 3 - 4 menit Mbak Ras kembali terangsang dan menyuruh saya memasukkan lagi kepunyaan saya ke dalam kemaluannya. Tanpa ba-bi-bu lagi, langsung saya tancapkan ke dalam kemaluannya. Kali ini lebih mudah karena kemaluan kami berdua memang telah licin. Setelah memompa beberapa menit, saya kembali merasakan gelombang kenikmatan dan dengan segera saya mencabutnya dan mengocok-ngocoknya dengan tangan sendiri. Namun tidak disangka, Mbak Ras kemudian menangkap kemaluan saya dan menggantikan tangan saya dengan tangannya dan kemudian memasukkan kemaluan saya ke dalam mulutnya. Ahhh... terasa sungguh nikmat, apalagi permainan lidahnya membuat saya tidak bisa bertahan lama dan akhirnya semua saya keluarkan di dalam kuluman mulutnya.

Tapi saya tidak melihat dia melepaskannya, dia seakan tidak mau melepaskan kemaluanku yang sedang muntah dan dia menghisap habis semua muntahannya tanpa sisa. Setelah saya merasakan pelumas dari dalam tubuh saya habis, batang kemaluan saya pun perlahan-lahan kembali mengecil. Melihat hal itu, Mbak Ras kemudian melepaskan batang kemaluan saya, dan tersenyum kepada saya. Kemudian dia berbisik, "Tango, terima kasih yah, Mbak udah lama nggak menikmatinya dari pamanmu, entar lain kali kalau ada kesempatan bisa kan kamu puasin Mbak lagi?" Dengan masih terduduk di lantai saya mengangguk sambil tersenyum nakal kepada Mbak Ras. Kemudian kami pun mandi sama-sama, saling membersihkan diri dan sesekali tangan saya bergerak nakal menyentuh payudaranya yang tadi pentilnya sempat mencuat.

Setelah kejadian pertama itu, kami pun sering melakukannya di hari Minggu atau hari-hari libur dimana keadaan rumah sedang sepi. Kadang di kamar mandi, kadang di kamarnya. Namun setelah beberapa bulan kami melakukanya, dia mendengar bahwa suaminya yang di luar negeri sudah menikah lagi dan dia pun memutuskan untuk kembali ke rumah orang tuanya di Jakarta. Dan setelah kepergiannya atau lebih tepatnya kepulangannya ke Jakarta saya tidak pernah mendengar kabarnya lagi sampai sekarang.

Sumber: 

CERITA MALAM BERCINTA DENGAN GADIS WARTEG


Siang panas di kota T******g membuat aku berkeringat. Belum habis jam kerja, kuputuskan saja buat pulang ke kamar kost. Sambil menyeka keringat, kudorong masuk motor inventaris kantor ke teras kamar kost. Perut terasa perih setelah sedari pagi berkeliling meninjau proyek pemerintah yg sedang dikerjakan oleh para pemborong lokal. Maklum, di kota ini pemborong lokal dikenal sedikit nakal jika tidak diawasi.

Dan tugasku mengawasi agar dana pemerintah digunakan dengan benar serta kualitas pekerjaan para pemborong sesuai dengan standar pemerintah. Setelah ganti baju dengan kaus oblong, aku menuju warteg langganan di seberang jalan. Sambil memesan makanan kuperhatikan seorang pegawai baru yg berbodi lumayan montok dgn payudara yg besar. Kulitnya putih dan betis dan lengannya ditumbuhi bulu halus. "Ada yg baru Mbak Ning?" aku berbasa basi dgn pemilik warteg. "iya, keponakan dari Brebes, baru datang semalam". "Namanya siapa mbak?" tanyaku sambil pandanganku tak lepas dari tubuhnya yg ternyata membuatku sedikit bergairah. "Murni Mas" jawabnya singkat. Memang bener - bener murni pikirku. Sambil menikmati makan siang, pikiranku melayang memikirkan Murni. Imajinasiku melayang membayangkan aku sedang bergumul dgnnya dikasur. "Mau minum apa mas?" Pertanyaan Murni membuyarkan mimpiku. "Es Tawar aja" jawabku singkat.

Pertemuan dgn Murni membuat aku semakin bersemangat pulang kerja. Singkatnya, karena kedekatanku dgn Mbak Ning sang pemilik warteg, aku berhasil dekat dgn Murni. Sampai satu hari aku nekat menembaknya saat warteg sedang sepi di malam selasa. "Murni, udah punya pacar blm dikampung?" tanyaku membuka pembicaraan. "Belum mas, emang kenapa?". "Gak, nanya aja. Masa gadis secantik Murni ga punya pacar? bo'ong aja nih!" candaku "Suer mas, murni blm punya pacar. Dulu pernah pacaran. Tapi skrg dah putus". "Lho kok putus? Mangnya knp?" tanyaku "Cowo aku dulu doyan selingkuh.

Baru pcaran sehari dah pcaran lagi sama cewe lain. Dah gitu dia doyan mabok. Kalo udah mabok rese. Suka remes-remes dada aku. Kan aku malu mas". Wah dah berani curhat nih, pikirku. "Trus, klo skrg ada cowo yg mau sama murni, Murni mau ga?" tanyaku. "Emang ada cowo yg mau sama pelayan warteg kaya aku mas?" tanyanya. "ada" jawabku singkat "siapa mas?" "Aku". "Ah, mas becanda. Mas kan Pegawe Negri. Ga mungkin mau sama aku. paling juga sebulan aku udah diputusin. atau aku ga dikawin. Makasih mas. Aku ga mau sakit keduakalinya!" jawabnya sambil berlalu. Aku pun hanya tertegun. Menikmati kegagalan malam ini.

Tapi aku tidak putus asa. Lewat Mbak Ning, kuutarakan perasaan hatiku kepada keponakannya. Mbak Ning pun setuju membantu akau. Katanya Murni memang udah pantas menikah dan ia ingin ada keluarganya yg bisa mengangkat derajat keluarga Murni. Sebab dikampungnya, PNS sangat dihormati dan disegani.

Singkatnya, setelah berjuang selama kurang lebih dua bulan, kudapatkan cinta Murni pada saat acara panggung hibura 17 Agustus di halaman kecamatan. Sambil menikmati musik dangdut alakadarnya, kucoba lagi menyatakan cintaku pada Murni. "Murni, mas benar benar suka sama kamu. Benar-benar cinta dan tidak ada sedikitpun niat untuk melepaskan Murni. Mungkin saya lebih baik buta daripada lihat Murni dengan orang lain" kataku menggombal ria. "Mas, Murni dah tau dari Bu LikNing. Kalo emang mas benr serius sama Murni. Murni mau nerima asal dengan syarat mas.". Hnnnnaaaaaaah, akhirnya ........ "Syarat apa Murni? jangankan satu, seribu syarat akan mas penuhi asal Murni mau menerima cinta Mas." gombal maning. "Cuma satu kok mas. Mas jangan pernah menyakiti hati Murni". "Murni, aku sudah bilang, gak akan pernah menyakiti kamu. Jadi kamu mau nerima mas?" tanyaku. "Mas terima ga syarat dari murni?" dia malah balik tanya. "Aku terima semua syarat yg kamu berikan. Jadi kamu mau jadi pacar mas?" aku medesaknya. "Jangankan pacar mas, aku malah sudah siap jadi istri kamu!" Mendadak suara musik dangsut tak terdengar. Yang terdengar hanya suara jantungku yg berdegup keras, saking senangnya perjuangan aku tak sia-sia. Kuraih bahu Murni dan ia tdk menolak. kupeluk dia dari samping dan kukecup rambutnya. dan dia melingkarkan tangannya dipinggangku. Resmilah kami jadi sepasang kekasih.

Sejak aku berpacaran dengan Murni, aku merasa ada perlakuan lain dari Mbak Ning. Ia mulai sering menyuruh Murni meninggalkan pekerjaannya jika melihat motorku datang. Dan biasanya Murni menghampiri aku dan cium tangan seperti layaknya seorang istri kpd suaminya. Seperti sore itu, aku pulang kantor tiba-tiba Mbak Ning menghampiriku. "Mas Adi, Mbak mau ke Depok. Ada saudara yg hajatan. Mungkin Mbak nginep beberapa hari. tlg titip anak-anak di warung ya, soalnya ga ada orang lakinya. Suami Mbak juga ikut". "Oke Mbak" jawabku. "jangankan beberapa hari, setahun juga aku mau!" jawabku sambil tersenyum. "Ya iyalah, kan ada Murni! Makasih ya mas" Mbak Murni sambil berlalu.

Malam itu Warteg tutup lebih awal. Sehingga aku punya banyak waktu ngobrol dgn Murni. "Mas, ngobrolnya di sana yuk, ga enak dsini. Rame, brisik lagi!" kata Murni mengajaka aku ngobrol di teras kostan aku. "Ya udah, tapi tlg buatkan aku kpoi yah!" pintaku sambil berjalan menuju kostan. Tak lama Murni menyusul dgn membawa segelas kopi hitam kesukaanku. Malam ini dia terlihat makin seksi dgn kaos ketat kuning dan celana legging hitam. Kontras dgn kulinya yg putih dan montok. Mulailah pikiran kotor merasuki otakku. Setelah Murni duduk di depanku, kami melanjutkan obrolan seputar keadaan keluarga kami masing-masing. Sekitar satu jam Murni terlihat BT. "Mas boleh numpang nonton TV ga?" "masuk aja nonton sana, aku masih mau ngroko sambil ngopi" jawabku. Murni pun berlalu kedalam dan menyalakan TV. 14" tuaku.

Stlah sebatang rokok kuhabiskan, kususul Murni kedalam dan duduk sebelahnya. Tak kukira Murni langsung merebahkan kepalanya didadaku. Kesempatan nih, pikirku. Kuusap dan kubelai rambunya yang panjang melewati bahu. Murni nampak menikmati. Kuberanikan diri mengangkat kepalanya dan kukecup lembut bibirnya. Murni sedikit kaget. Maklum, setelah cintaku diterima, kita hanya sekedar mengobrol. Ga pernah lebih. Namun, ia membalas ciumanku. Malah badannya dihadapkan ke diriku. kamipun berciuman dgn posisi murni duduk dipangkuanku. Kuberanikan diri meraba payudaranya. Murni sedikit menepis tanganku. Tapi aku tak putus asa. kucoba dan kucoba lagi sampai akhirnya Murni membiarkan tanganku meraba dan mermas lembut payudaranya.

Ciuman Murni semakin gencar ketika tanganku kucoba menerobos masuk lewat belakang bajunya. Terasa lembut payudara atasnya yg masih terbungkus kutang berenda. Tiba-tiba Murni bangkit. Yaaaah, ngambek dia., pikirku. Tapi ga kusangka ternyata murni bangun untuk menutup pintu dan kembali ke pangkuanku dan meraih kepalaku. Kami lanjutkan kembali pekerjaan yg tertunda tadi. Semakin berani aku meciumi sekujur wajahnya. Nafas Murni sedikit tersengal ketika kuciumi daerah belakng telinganya.

Kucoba mengangkat kaosnya. Tak ada perlawanan. Kaos Murni sudah terlpeas dan didepanku terpampang pemandangan indah. Sepasang payudara montok yg putih bersih walau masih terbalut kutang berenda. Kuciumi dengan uas daerah belahan toketnya, dan Murni nampak menikmatinya. Sambil kupeluk, kucoba melepaskan kait kutang dipunggung Murni. Berrhasil!!!. Kutang Murni terlepas dan kuloloskan dari bwah dan Munri melepaskan ciumannya agar kutangnya cepat terlepas. Langsung kujilati pentil susunya yg kemerahan. sementara tanganku meremas toket senbelahnya. Murni bergelinjang menahan kegelian dengan nafas yg tersengal-sengal. Nampaknya ia sudah terangsang. Puting susunya semakin maju dan mengncang. Kulepas Bajuku dan kuajak murni merebahkan diri sambil terus menjilati, mengulum dan meremas toket yg sudah lama kuidam-idamkan. Murni semakin bernafsu dengan meremas-remas pantatkusambil mengerang nikmat. Kucoba meraba selangkangannya dan Murni agak menolak dengan merapatkan pahanya. Tapi terasa sedikit oleh jariku. Memeknya mulai basah. Kuusap usap kemaluannya dari luar dan tiba tiba Murni memelukku dengan erat dan ia membekapkan mulutnya ke dadaku. Maassss, aaaaaahhhhhhhhhh..... Murni pipis..... Rupanya ia orgasme akibat rangsanganku di payudaranya.

Murnipun bangun dan meraba selangkangannya. "Mas gimana ini, Murni ga tahan pengen pipis tadi, celana Murni basah". "kamu orgasme sayang, bukan pipis". jwbku menerangkan. "enak ga?" tanyaku "enak mas, sampe pipis hehehehe..." katanya sambil tertawa. Akupun bangun dan mengunci pintu. "Emang pipisnya banyak sayang?" tanyaku. "Boleh liat ga celananya?" tanyaku bersiasat. Padahal aku pengen liat memeknya yg terlihat munjung dari balik celana leggingnya. "Ga mau ah, malu. Masa Murni buka celana disini!". "Gapapa sayang, kan kamu calon istriku. Nanti klo kita menikah juga kita saling telanjang!" kataku menggombal. Murnipun bangun dan melorotkan celana legginga. ASTAGA!!! dari balik CDnya menyembul daging kemaluan yg menurutku hampir sama dengan ukuran toketnya (saking munjungnya tuh memek!) Tak kuat menahan konak langsung aku berlutut dan menciumi memeknya dari luar. "Mas, mau ngapain... Ih.... ngapain sih... oooh... shhhhh ... ahhhh.." prote Murni tak kudengar sambil sesekali kucoba menelusupkan jari kesela-sela CDnya.

"Mmmmmaaaaassssssssshhhhhhh...... geli mas..... aaaahh. sshhhhhhh...." Murni terus mendorong kepalaku agar menjauh dari memeknya. Tapi aku tak peduli, aku terus mendesakkan kepalaku dan menjilati sekitar selangkangannya dan tanganku mencoba melorotkan CD Murni yg masih dlm posisi berdiri. Dengan sekali sentak, CD itu berhasil turun dan alamak........ bongkahan daging yg ditumbuhi jembut yg jarang jarang. Merah merekah, membuat gairahku semakin tinggi. Kuturunkan terus CDnya hingga benar-benar berada dibetisnya. Sementara lidahku mencoba menerobos ke sela sela belahan memeknya. "Mmmmmmmmmaaaaaaaaaassssssss, oooooohhhhhhhhhh........... aaaaaahhhhhhh........ sssssshhhhhhh.... aduh ......" Hanya itu yg keluar dari mulutnya sambil terus mendorong kepalaku. Sementara itu, entah kapan aku melepasnya, aku hanya tinggal memakai sempak. Kuajak Murni berbaring dan ia menurut. Kulepas CDnya yg masih nyangkut di kakinya sambil merenggangkan kedua belah kakinya. Saat kakinya merenggang nampaklah isi dari memek Murni yg merah, kelentitnya yg meruncing kujilati dengan rakus sambil sesekali memasukan lidahku ke rongga memeknya. Tiba-tiba, rambutku dijambaknya dan Murni kembali orgasme. "Mmmmmaaaaaaaasssssssss, aaaaaaaaaauwwwwhhhhhhhhh, nnnnnnnnnggggggghhhhhhhhhhhh. aaaaaaaaahhhhhhhhh!!!!!!!" itulah yg keluar dari mulutnya sambil melepas cairan kenikmatannya. KUjilati lelehan cairan memek yg membasahi sekitar bibir dan kumisku. Tak kulepaskan pula cairan yg meleleh sekitar memeknya. Tubuhnya melemas setelah dua kali kubuat orgasme. sambil kupandangi tubuh yg mulus yg tergolek lemas, kulepas celana dalamku. Kontolku langsung mnerobos setelah sedari tadi kukurung didalam CD. Langsung kuarahkan kepala kontolku kehadapan memeknya. Ku oles-oles di permukaan memeknya yg basah. Kembali Murni menggelinjang dan berdesah. Tak sabar kucoba masukkan kontolku ke liang memeknya. Murni sedikit menolak dengan kembali merapatkan pahanya. "Gapapa sayang, aku dah ga kuat lagi sayang..." pintaku memelas.... "Ga mau mas, Murni takut hamil. Nanti Bu Lik NIng marah sama aku!" "Murni sayang, aku kan sudah bilang kita akan menikah, ga usah takut. Bu Lik Ning sudah merestui hubungan kita. Ayo sayang, jangan siksa aku ....!?" kataku sambil terus berusaha membuka pahanya yg masih merapat. Nafsu birahi yg semakin memuncak membuat aku berbuat sedikit kasar dengan memaksanya mebuka pahanya yg tertekuk. Akhirnya Murni menyerah. Ia membuka pahanya dan tak buang waktu lagi langsung kusodokkan kontolku kedlam memeknya dengan perlan. "Awwwh... pelan-pelan mas, sakit... aaahhh... ssshhhh...". "Tenang sayang, sakitnya cuma sebentar, nanti juga enak!" rayuku sambil terus berusaha memasukkan kontolku. Kogerkan pantaku maju mundur dengan irama santai agar Murni menikmati sensasi kepala kontolku yg mencoba menembus memeknya. Dan akhirnya, blesssssss... cretttt.... kontolku masuk sebagian dan dilelehi cairan darah perawannya diiringi dengan lenguh kesakitan Murni dan tangannya mencengkeram erat lenganku. Kulihat ia mengigit bibir agar tidak berteriak. Kudekatkan wajahku dan kulumat bibirnya. Agar Murni terangsang kembali, kuremas pelan payudaranya dan sesekali kuplintir halus putingya. Alhasil, putingnya kembali mngeras tanda ia mulai terangsang lagi. Kurubah posisi tubuhku sedikit berjongkok sambil kupegangi kedua belah pahanya. Kulakukan lagi gerakan maju mundur. Kulihat murni menangis, kuseka air matanya dgn jariku sambil terus kupompa memeknya. Tak lama, kudengar Murni mulai melenguh nikmat, "aaaahhhh, sssshhhhhhhhh, oooooooowwwwwwwwwwwwhhhhh........ nnnnnnnnnnnnngggggggghhhhhhhhhh..... aaaaaahhhhh.....!" terus kopompa memeknya dengan sodokan kontolku. Tak terasa hampir seluruh kontolku sudah masuk keliang mememknya. kuturunkan pahanya agar menindih pahaku. Kuletakkan tangan diatas lantai dan terus memompa memek Murni yg sempit dan licin. Sekitar 10 menit kupompa memeknya, terasa aku akan ejakulasi. kupercepat gerakanku agar cepat kunikmati sensasi orgasmeku. dan tak lama, "Aaaaaaaaaaaaaassssssshhhhhhhh............ uuuughhhhhh...... crrrroooooooooot....... crot. crottttt.... kulepas lendir kenikmatan di dalam memek Murni dan akupun terkulai lemas. Setelah mengatur napas, kucabut pelan kontolku dan kucari pakaian kotorku untuk mengelap lelehan spermaku dan cairan memek Murni yg telah tercampur dgn darah perawannya. Kulap memek Murni dengan lembut sambil sesekali kucium aroma memeknya. Terlihat Murni matanya basah, kurebahkan badanku disebelahnya dan kuciumi pipinya. "Sayang kenapa nangis? Kamu nyesel melakukan ini dengan mas" tanyaku. "Murni ga nyesel mas, Murni nagis karena nahan sakit tadi. Murni seneng kok mas. Murni seneng bisa bikin mas bahagia, murni juga pengen mas bikin Murni sebahagia mas. Jangan pernah ninggalin Murni mas!". Tak kujawab malah kuraih kepalanya dan kulumat lembut bibirnya. Kuangkat tubuhnya agar menindih tubuhku. Murni memelukku. dan kami bergumul saling memagut bibir. Akibatnya, kontolku kembali bangun. Kupinta Murni menjilati kontolku tapi ia menolak terus. Akhirnya kupinta ia berjongkok diatas mukaku. Kujilati lagi memeknya yg montok. Sesekali kugigitb lembut kelentitnya yg meruncing. dan kami melanjutkan kembali pertempuran. Kupinta Murni nungging, mula-mula ia bingung. "Mas jangan dimasukin ke pantat. Bau ih.... !!".... "Nggak sayang, kamu diem aja, aku mau masukin ke memek kamu dr belakang. Rasanya lebih enak sayang..." Kusodk pelan memeknya yg sudah mulai kuyup lagi. 5 menit kulakukan gaya shaggy. Kusuruh Murni merapatkan pahanya sambil berpegangan ke tembok. Terus kusodk dia dgn irama agak cepat. Akhirnya, "Massssss... Murni mau kluar nih ...... aaaaaaaaahhhhhhhhhhhhhsssssss...... sssssssssshhhhhhh... aaaaaaaaaahhhhhhhhhhh...!" . "tahan sayang, kita keluar barengan aja." Pintaku. dan tiba tiba murni berdiri dan terjatuh sambil mergeng melepas orgasmenya.... ooooooooooooooooooooooooooooohhhhhhhhhhhhhh....mas Murni lemes banget. Sementara aku mulai merasakan tanda-tanda orgasme pula. kudekatkan payudaranya ke kontolku dan kujepit kontolku dgn payudaranya. Koyang-goyang payudaranya hingga kontolku terasa seperti dikocok dan ... aaaaaaaahhhhhhhh.......... akhirnya kulklepaskan kembali lahar kenikmatanku di toket murni.
Sampai jam 12 malam kami bersetubuh. dan ketika hendak berpakaian kuajak Murni ke kamr mandi dan kulap tubuhnya dengan handuk kecil yg sudah aku basahi. Ketika mengelap pyudaranya kembali aku terangsang dan menjilatinya lagi. sambil berjongkok kulap seluruh tubuh mulusnya dgn handuk basah. dan saat mengelap memeknya kubenamkan kepalaku dimemeknya seakan aku tak mau lepas dari barang yg sudah memberikan 3 kali kenikmatan padaku. Kuberikan CD dan celana Leggingnya, "Ga usah pake cd mas, basah ntar lengket. simpen aja disini. besok Murni cuci. Takut ketauan klo dibawa kewarung". "Kirain buat kenang-kenangan aku sayang", jawabku sambil mengecup bibirnya. "Udah dapet isinya, bungkusnya juga masih mau!" katanya sambil memakai celana legging. kamipun berpakian kembali dan kulepas Murni pulang dengan pelukan erat dan kecupan halus dibibirnya. "Kapan-kapan kita lakukan lagi ya sayang!?" pintaku. "Asal ada waktu dan kesempatan, kapan mas mau aku kasih. Asal jangan mas kasihkan mainan baruku ke perempuan lain ya mas." jawab Murni.